SELAYAR — Guncangan gempa bumi yang berpusat di NTT itu terasa kuat hingga ke wilayah kepulauan Selayar. Kepanikan langsung melanda warga di Kecamatan Pasimarannu, Pasilambena, Pasimasunggu Timur, dan Pasimasunggu. Mereka berinisiatif meninggalkan rumah dan berlari menuju area yang lebih tinggi.
Bupati Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali, menyebut kepanikan warga dipicu oleh trauma mendalam akibat gempa NTT pada 2022 silam yang sempat merusak pemukiman mereka.
“Warga rata-rata panik karena traumatik gempa 2022 lalu yang sempat merusak rumah dan fasilitas publik. Saat guncangan terasa kuat, mereka langsung berinisiatif naik ke area perbukitan untuk mengamankan diri,” kata Natsir Ali, Sabtu (15/8/2026).
Air Laut Naik-Turun Empat Kali di Pasimarannu
Dua kecamatan yang posisinya paling dekat dengan episenter gempa, yakni Pasilambena dan Pasimarannu, menjadi wilayah yang paling waspada. Fenomena perubahan air laut sempat memicu kekhawatiran warga pesisir.
“Air laut sempat surut dan naik-turun sampai empat kali. Di Pasimarannu, air bahkan sempat melimpas di atas tanggul, tetapi syukurnya dorongan airnya tidak terlalu keras dan perlahan surut kembali tanpa menerjang daratan,” jelas Natsir.
Laporan sementara mencatat warga di Desa Lembang dan Desa Kalaotoa sempat bertahan di lokasi yang lebih tinggi. Sementara itu, situasi di daratan utama Pulau Selayar terpantau relatif lebih kondusif dan aktivitas masyarakat perlahan kembali normal.
Peringatan Tsunami Dicabut, Belum Ada Laporan Kerusakan
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar memastikan hingga saat ini belum menerima laporan mengenai kerusakan bangunan maupun fasilitas umum akibat gempa tersebut. BMKG juga telah resmi mencabut peringatan dini tsunami pada pukul 08.31 WITA.
Pemkab bersama Polres Kepulauan Selayar mengimbau warga yang berada di bukit untuk kembali ke rumah dengan tetap mengutamakan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan. Warga dimohon hanya memantau pembaruan informasi dari kanal resmi BMKG dan pemerintah daerah setempat.