Pemerintah Kota Makassar menyiapkan area khusus untuk merelokasi sekitar 1.500 ekor sapi yang selama ini berkeliaran dan mencari makan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa. Langkah ini diambil untuk menata kota sekaligus meningkatkan kualitas daging ternak melalui pasokan sampah organik dari pasar tradisional.
MAKASSAR — Ratusan ternak sapi yang selama ini menjadi pemandangan umum di sekitar TPA Tamangapa bakal segera dipindahkan ke lokasi penampungan baru. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar Helmy Budiman mengatakan relokasi ini merupakan bagian dari penataan kawasan TPA yang kini mulai membatasi jumlah sampah yang masuk.
Kebijakan itu tidak hanya menyangkut ketertiban visual, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan. Keberadaan ternak yang lalu lalang di area timbunan sampah dinilai bisa memicu risiko longsor yang membahayakan.
Pasokan Pakan Baru dari Sampah Pasar
Alih-alih membiarkan sapi memakan sampah sembarangan, pemkot menyiapkan pasokan makanan yang lebih terkontrol. Sampah organik dari pasar-pasar tradisional yang telah dipilah akan dijadikan pakan ternak.
"Ini agar kualitas daging ternak lebih bagus dan juga jadi solusi untuk sampah-sampah pasar," kata Helmy Budiman di Makassar, Senin.
Kebutuhan pakan untuk ribuan sapi tersebut diperkirakan mencapai 50 ton per hari. Namun, pasokan organik dari pasar yang berhasil dikumpulkan saat ini baru sekitar 10 ton per hari.
Target Makassar Bebas Sampah 2029
Langkah ini sejalan dengan fase baru pengelolaan sampah di Kota Makassar. Pemilahan sejak dari sumber menjadi kunci untuk mengurangi beban TPA, sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Ketua Dewan Lingkungan Makassar Melinda Aksa menambahkan, solusi persampahan tidak harus selalu bergantung pada TPA. Sampah organik rumah tangga bisa diolah mandiri melalui kompos, budidaya maggot, biopori, TEBA, maupun ember tumpuk.
“Kalau sampah organik selesai di rumah, sampah anorganik bisa bernilai ekonomi, maka yang tersisa untuk dibawa ke TPA benar-benar hanya residu. Ini yang kita dorong,” jelasnya.
Ia menekankan peran RT, RW, lurah, camat, kader PKK, serta tokoh masyarakat sebagai agen perubahan. Edukasi berjenjang diperlukan agar warga memahami alasan dan manfaat di balik pemilahan sampah, bukan sekadar tahu aturannya.
Upaya ini menjadi bagian dari target besar Makassar Bebas Sampah 2029, yang menurut Melinda harus dibangun lewat gerakan bersama, termasuk mengurangi plastik sekali pakai dan memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.