Pencarian

Rupiah Diproyeksikan Menguat hingga Akhir 2026, Citi Sebut Harga Minyak Jadi Katalis Utama

Jumat, 21 Agustus 2026 • 16:32:01 WIB
Rupiah Diproyeksikan Menguat hingga Akhir 2026, Citi Sebut Harga Minyak Jadi Katalis Utama
Rupiah ditutup menguat 92 poin ke level Rp17.748 per dolar AS pada perdagangan Kamis (20/8).

SULAWESI SELATAN — Rupiah tercatat menguat 92 poin atau 0,52% ke level Rp17.748 per dolar AS pada perdagangan Kamis (20/8). Penguatan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian konflik di Selat Hormuz.

Helmi Arman memaparkan, tren penurunan harga komoditas energi dunia menjadi katalis paling signifikan bagi stabilitas nilai tukar. Ekspektasi deeskalasi ketegangan di Timur Tengah menjelang pemilu sela di AS disebut-sebut akan memulihkan arus perdagangan di jalur strategis tersebut.

Surplus Pasokan Minyak Diproyeksikan Capai 4 Juta Barel per Hari

"Untuk faktor-faktor globalnya, kami melihat tren harga minyak dunia terhadap kuartal II sedang bergerak turun seiring ekspektasi deeskalasi ketegangan di Timur Tengah," ujar Helmi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (20/8).

Menurut proyeksi Citi, jika arus perdagangan di Selat Hormuz kembali normal, pasar minyak global akan mengalami surplus pasokan sekitar 4 juta barel per hari pada 2027. Kondisi pasokan yang melampaui permintaan ini akan menjaga harga energi tetap rendah dan mengurangi tekanan inflasi global.

Neraca Eksternal dan Dampaknya bagi Pasar Keuangan

Perbaikan sentimen eksternal ini dinilai akan meringankan beban rupiah di pasar keuangan. Kombinasi antara harga minyak yang stabil dan prospek surplus pasokan diyakini mampu memperbaiki neraca transaksi berjalan Indonesia yang selama ini sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

Bagi investor, prospek penguatan rupiah hingga akhir 2026 membuka ruang apresiasi bagi aset berdenominasi rupiah, termasuk obligasi pemerintah dan saham. Stabilitas kurs juga menjadi sinyal positif bagi emiten yang memiliki utang dalam dolar AS karena beban pembayarannya akan berkurang seiring penguatan mata uang lokal.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih menjadi risiko utama yang dapat mengubah arah proyeksi ini. Eskalasi konflik yang tidak terduga di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan kembali menekan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

Investasi mengandung risiko.

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks