MAKASSAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mencatat enam kecamatan mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. Wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala.
Biringkanaya menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbesar, mencapai 14.787 jiwa. Disusul Tallo dengan 10.672 jiwa dan Tamalanrea 9.947 jiwa.
Distribusi Air Bersih Akan Dimasifkan Setiap Hari
Kepala BPBD Makassar Fadli Tahar menjelaskan, status tanggap darurat ini menjadi dasar untuk menggencarkan distribusi air bersih ke seluruh wilayah terdampak. Pihaknya bersama stakeholder terkait telah menggelar rapat koordinasi di Kantor Wali Kota Makassar pada Kamis (13/8).
"Mulai besok, setiap hari akan masif itu distribusi air. Kita ada sumber-sumber air termasuk PDAM," ujar Fadli, Kamis (14/8/2026).
Ancaman Kebakaran dan Pemadaman Listrik Mengintai
Fadli mengingatkan warga untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang kerap menyertai musim kemarau panjang. Status tanggap darurat, menurut dia, tidak hanya menangani kekeringan tetapi juga seluruh dampak ikutannya.
"Status tanggap darurat itu mengawal semua. Eksekusi semua kekeringan, kebakaran, kesehatan masuk semua dia," jelasnya.
Kekeringan juga berpotensi mengganggu pasokan listrik. Fadli menyebut operasional PLTA akan terganggu jika debit air menyusut drastis, yang berujung pada pemadaman bergilir dan berdampak pada aktivitas usaha masyarakat.
Kekeringan 2026 Diprediksi Lebih Parah dari 2023
Berdasarkan laporan BMKG, intensitas kekeringan di Makassar pada tahun ini lebih kuat dibandingkan kondisi pada 2023 lalu. Fadli memperkirakan bencana ini akan berlangsung selama empat bulan ke depan.
"Jadi empat bulan terakhir ini kemungkinan besar kita akan kekeringan dahsyat, itulah kita menanggapi itu dengan status ini pak wali kota tetapkan, kita punya antisipasi-antisipasi selama empat bulan ini mulai 8, 9, 10, 11," pungkasnya.