SULAWESI SELATAN — Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si, Kepala Satuan Tugas Pusat Studi Kepolisian dan Dosen Kepolisian Utama di STIK-PTIK Lemdiklat Polri, menyampaikan refleksi kritis menjelang peringatan Hari Pramuka ke-63, Kamis (13/8). Menurutnya, Gerakan Pramuka yang berpijak pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Justru, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan nilai-nilai kepramukaan hidup dalam keseharian generasi muda.
Jiwa Pramuka Bukan Soal Tepuk Tangan dan Tali Temali
Susilo menilai banyak pihak yang keliru mengukur keberhasilan Pramuka dari kemeriahan acara atau atribut yang dikenakan. Padahal, inti dari kepramukaan adalah pembentukan karakter yang utuh.
"Pramuka bukan tentang seragam. Bukan tentang tepuk Pramuka dan tepuk tangan. Bukan tentang baris-berbaris, tali-temali, atau sekadar berkemah," kata Susilo dalam keterangan tertulisnya.
Ukuran nyata dari pendidikan karakter ini, lanjut dia, tercermin dari kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, gotong royong, hingga semangat pengabdian. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama para pembina dan orang tua, bukan sekadar dokumentasi kegiatan di media sosial.
Pramuka Harus Hadir di Tengah Masyarakat Digital
Perubahan zaman menuntut Gerakan Pramuka beradaptasi. Generasi saat ini tumbuh bersama media sosial dan kecerdasan buatan, sehingga pola pembinaan pun harus relevan dengan konteks tersebut. Susilo menekankan pentingnya transformasi dari sekadar kegiatan alam terbuka menjadi gerakan yang menyentuh ruang digital.
"Pramuka tidak cukup hanya menjadi memory of the past, tetapi harus menjadi energy for the future," ujarnya.
Ia menambahkan, Pramuka masa depan tidak hanya menjadi scout in the forest, tetapi juga harus hadir sebagai scout in the digital society. Adaptasi ini penting agar nilai-nilai kepramukaan tetap tertanam tanpa kehilangan relevansinya.
Menuju Indonesia 2045: Pramuka sebagai Ruang Latih Kepemimpinan
Susilo juga menyoroti peran Pramuka sebagai wahana kaderisasi kepemimpinan. Berbagai aktivitas seperti perkemahan, musyawarah, pembagian tugas, hingga penyelesaian masalah, merupakan simulasi nyata dalam mengambil keputusan dan bekerja sama. Kemampuan ini dinilai krusial untuk menyongsong Indonesia 2045 yang membutuhkan generasi berintegritas dan bertanggung jawab.
"Jangan sampai kita sibuk menjaga seragam dan seremoninya, tetapi kehilangan jiwanya. Jangan sampai kita mempertahankan ritualnya, tetapi melupakan nilai pendidikannya," tegas Susilo.
Secara historis, 14 Agustus 1961 menjadi momen penting ketika Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi dan Panji Gerakan Pramuka dianugerahkan. Susilo berharap semangat awal itu terus menyala di tengah berbagai tantangan zaman. "Jika api itu masih ada, mari kita besarkan. Jika mulai redup, mari kita terangkan. Dan jika hampir padam, mari kita gelorakan," pungkasnya.