TORAJA UTARA — Kepala Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara Riantho Yusuf Sangkelo menyebut api membakar tiga titik lahan berbeda yang kemudian merambat ke liang, sebutan warga untuk kuburan batu di kawasan tebing. Peti jenazah di dalamnya ikut terbakar.
"Itu kuburan namanya liang. Jadi ada belasan atau puluhan liang itu karena tiga titik yang berbeda tempatnya. Sempat ada itu (peti terbakar)," kata Riantho kepada detikSulsel, Minggu (25/10/2026).
Warga Sempat Melihat Seseorang Membakar Lahan
Informasi dari warga sekitar menyebut ada orang yang terlihat memicu api. Sejumlah warga sempat mengejar terduga pelaku, tetapi orang tersebut berhasil melarikan diri dari lokasi.
"Mungkin ada unsur kesengajaan atau karena iseng. Itu informasi dari masyarakat," ube Riantho.
Ia menambahkan, penyebab pasti belum dapat dipastikan karena identitas orang yang dikejar warga belum diketahui. Petugas gabungan sempat kesulitan memadamkan api karena armada damkarmat tidak bisa menjangkau lokasi.
"Kendaraan kami tidak memungkinkan masuk ke dalam untuk melakukan pemadaman, karena akses jalan yang susah," imbuhnya.
Lurah Melapor ke Polisi, Olah TKP Digelar Sehari Kemudian
Laporan datang dari Lurah Baruppu Utara yang mendatangi kantor polisi pada Sabtu (25/10). Penyidik Polres Toraja Utara langsung turun ke lokasi sehari setelah laporan diterima untuk olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan keterangan saksi secara bertahap.
"Saksi berupa masyarakat yang tinggal di sekitaran lokasi kejadian. Mereka yang melihat, alami, dan mengetahui tentang kejadian tersebut," kata Kapolres Toraja Utara AKBP Yoseph Adi Rakhmat Sudrajat, Selasa (27/10).
Yoseph menyebut vegetasi di lokasi sangat kering dan angin kencang sehingga api cepat menyebar. Polisi belum merinci luas dampak kebakaran dan belum menyimpulkan apakah unsur kesengajaan terbukti.
"Hasil penyelidikannya masih didalami karena masih diambil keterangan saksi-saksi semua kan tidak bisa sekaligus langsung diambil keterangan. Baru nanti kami simpulkan, sementara ini belum ada kesimpulan," ujarnya.
Menbud Fadli Zon: Perusakan Situs Budaya Tindakan Biadab
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyayangkan ikut terbakarnya makam batu di Toraja Utara. Kementerian Kebudayaan akan menurunkan tim untuk mengecek dampak kebakaran terhadap situs budaya dan mengumpulkan data yang diperlukan.
"Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan dan kita sedang mengumpulkan juga nanti data-datanya yang terkait hal ini apa yang bisa kita lakukan di dalam pemulihannya, restorasinya," ujar Fadli Zon di Makassar, Selasa (27/10).
Fadli menyebut kebakaran bisa disebabkan dua faktor, yakni ulah manusia dan cuaca. Ia tidak menoleransi kebakaran yang terbukti dilakukan secara sengaja.
"Memang kebakaran ini kan tentu bisa disebabkan dua hal. Satu karena ulah manusia yang melakukan dengan kesengajaan. Saya kira ini satu tindakan kriminal yang sangat biadab, merusak," katanya.
Faktor alam, lanjutnya, turut berperan saat kemarau panjang akibat El Nino memicu kekeringan. Kementerian Kebudayaan berjanji melakukan inventarisasi situs terdampak sebelum menentukan langkah revitalisasi atau restorasi.
Polisi Imbau Warga Tidak Membakar Lahan
Polres Toraja Utara memasang papan peringatan dan spanduk larangan membakar di kawasan rawan. Sosialisasi dilakukan agar warga tidak memicu api di sembarang tempat, terutama saat vegetasi kering dan angin kencang.
"Kami sudah sosialisasikan itu, termasuk juga pasang pelang, spanduk-spanduk, larangan untuk membakar dan juga larangan untuk melakukan tindakan-tindakan lain yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran," pungkas Yoseph.