MAKASSAR — Puluhan perajin perempuan dari kawasan pesisir Paotere, Makassar, mengikuti pelatihan penguatan kemasan produk kerajinan berbahan dasar sisik ikan. Kegiatan yang berlangsung di UPT Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) UMKM Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Jalan Metro Tanjung Bunga, ini bertujuan meningkatkan daya saing produk UMKM lokal di pasar yang lebih luas.
Pelatihan ini digagas melalui kerja sama antara Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulsel, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Sulsel. Para peserta dibekali pemahaman tentang pengembangan kemasan yang berkualitas, ramah lingkungan, serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kemasan Ramah Lingkungan Jadi Kunci Nilai Tambah
Ketua Bidang Kemitraan Dekranasda Sulsel, Ainun Jariah, menyebut pelatihan ini diarahkan untuk membekali perajin dengan keterampilan mengembangkan kemasan menggunakan bahan lokal. Ia menegaskan bahwa aspek kemasan sering kali menjadi penentu pertama minat pembeli sebelum menilai isi produk.
“Pelatihan ini juga memberikan pemahaman mengenai perluasan pasar produk kerajinan sekaligus membangun kemitraan untuk mendukung pengembangan pemasaran produk perajin perempuan,” kata Ainun dalam keterangannya, Kamis (20/08).
Selama ini, para perajin di Paotere mengolah sisik ikan menjadi beragam produk seperti gantungan kunci dan vas bunga. Dengan kemasan yang lebih menarik, produk-produk tersebut diharapkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan tampil lebih profesional di mata konsumen.
MoU Strategis dengan IWAPI, APPMI, dan PHRI
Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Dekranasda Sulsel dengan sejumlah mitra strategis. Mitra tersebut meliputi IWAPI Sulsel, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Sulsel, serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel.
Ketua Dekranasda Sulsel, Ny. Naoemi Octarina Sudirman, melalui perwakilannya Tuti Setiawan, menekankan bahwa wilayah pesisir memiliki potensi ekonomi besar yang belum tergarap optimal. Ia mencontohkan limbah sisik ikan yang selama ini kerap terbuang justru bisa disulap menjadi produk bernilai estetika.
“Pelatihan ini bukan hanya mengenai bagaimana membuat kemasan yang menarik dan sesuai ketentuan, tetapi juga mendorong pola pikir bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah dan peluang usaha,” ujarnya.
Digitalisasi dan Kolaborasi untuk UMKM Naik Kelas
Mewakili IWAPI Sulsel, Dewi Talli mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari upaya bersama memperkuat UMKM yang dikelola perempuan. Ia menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan usaha.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin mendorong UMKM agar terus berkembang, beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi digital dalam pengembangan usaha,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Andi Isma, yang mewakili Kepala Dinas, menyebut perajin memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Ia berharap keterampilan yang diperoleh dari pelatihan ini dapat langsung diterapkan para peserta untuk mengembangkan usaha masing-masing.
“Kami berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat diterapkan dan dikembangkan sehingga usaha para peserta semakin mandiri, berkembang, dan memiliki daya saing,” pungkasnya.