Pencarian

Laba Pupuk Indonesia Melonjak 253% Jadi Rp8,51 Triliun, Danantara Dorong Efisiensi Pabrik

Senin, 03 Agustus 2026 • 12:30:02 WIB
Laba Pupuk Indonesia Melonjak 253% Jadi Rp8,51 Triliun, Danantara Dorong Efisiensi Pabrik
Laba Pupuk Indonesia melonjak 253% menjadi Rp8,51 triliun, didorong efisiensi pabrik oleh Danantara.

SULAWESI SELATAN — Pendapatan perusahaan pelat merah ini ikut terkerek naik 51 persen menjadi Rp59,67 triliun. EBITDA—indikator kemampuan operasional menghasilkan uang—melonjak 140 persen ke level Rp14,28 triliun. Angka-angka ini bukan sekadar catatan manis di atas kertas; Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyebutnya sebagai buah dari eksekusi strategi operational excellence dan cost leadership yang berjalan konsisten.

Efisiensi yang Mengubah Struktur Biaya

Transformasi yang diinstruksikan Danantara tidak berhenti pada perbaikan tata kelola. Rahmad menjelaskan, perusahaan kini lebih agresif melakukan diversifikasi sumber pendapatan—memperbesar kontribusi produk non-subsidi dan non-pupuk—serta memperluas skema kontrak bahan baku untuk meredam gejolak harga dunia.

Langkah ini berjalan paralel dengan penyederhanaan struktur holding dan optimalisasi distribusi pupuk bersubsidi (PSO). Landasan hukumnya diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, yang memberi ruang gerak lebih luas bagi BUMN untuk menekan biaya operasional.

“Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara, transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tetapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujar Rahmad dalam keterangan resminya.

Revitalisasi Tujuh Pabrik dan Proyek Masa Depan

Dalam lima tahun ke depan, Pupuk Indonesia berencana merevitalisasi tujuh pabriknya. Ini bagian dari arahan Danantara untuk mengoptimalkan aset-aset BUMN yang selama ini kurang produktif. Selain itu, perseroan menyiapkan sejumlah proyek strategis: pengembangan industri metanol beserta turunannya, bisnis clean ammonia, hingga ekspansi ke sektor industrial support.

Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun, perusahaan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Namun, ruang untuk menangkap peluang ekspor tetap terbuka tanpa mengganggu pasokan petani lokal.

Petani Kebagian Pupuk Lebih Cepat

Transformasi internal ini berdampak langsung ke lapangan. Sepanjang 2025, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 8,11 juta ton—naik 10,68 persen dari tahun sebelumnya. Percepatan ini ditopang sistem i-Pubers yang memangkas waktu penebusan pupuk oleh petani, serta penyederhanaan tata kelola distribusi melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2025.

Hingga 12 Juli 2026, penyaluran sudah mencapai 5,13 juta ton atau sekitar 52 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton. “Semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal: pupuk yang lebih terjangkau dan lebih cepat sampai kepada petani, dengan biaya yang lebih sehat bagi negara,” tegas Rahmad.

Ia menambahkan, keberlanjutan laba bukan sekadar mengejar angka tertinggi tahunan, melainkan membangun fondasi bisnis yang kokoh di tengah perubahan kondisi global. “Pertumbuhan ini juga harus memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha kecil dan petani di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Kinerja ini menegaskan posisi Pupuk Indonesia sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional, sekaligus contoh awal bagaimana transformasi BUMN di bawah Danantara mulai menunjukkan hasil terukur—bukan hanya di atas kertas, tapi juga di sawah-sawah petani.

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: metropolitanpost.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks