Pencarian

Fosil Buaya Purba di Tambang Piramida Giza Diberi Nama Herugavialis cairensis

Jumat, 16 Oktober 2026 • 10:10:01 WIB
Fosil Buaya Purba di Tambang Piramida Giza Diberi Nama Herugavialis cairensis
Tengkorak buaya purba dari Formasi Mokattam dianalisis ulang menggunakan CT scan.

SULAWESI SELATAN — Peneliti mengidentifikasi ulang tengkorak buaya purba yang ditemukan di tambang batu dekat Sphinx dan Piramida Giza sebagai genus baru, Herugavialis cairensis. Fosil yang semula dikira Tomistoma cairense itu dianalisis memakai CT scan oleh tim dari Inggris, Swedia, Jerman, dan Mesir. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science.

Formasi Mokattam, lokasi batuan kapur yang menjadi bahan pembangunan Sphinx Agung dan Piramida Giza, menyimpan fosil reptil yang ditemukan pertama kali pada 1920-an. Salah satu temuan paling utuh saat itu adalah tengkorak buaya gavial yang hampir lengkap.

Selama hampir seabad, fosil tersebut tersimpan dalam koleksi dengan label Tomistoma cairense. Peneliti era itu menilai permukaan fosil mirip dengan buaya genus Tomistoma yang masih hidup di Malaysia dan Indonesia.

Mengapa Fosil Ini Sempat Salah Diidentifikasi

Gavial diperkirakan pernah tersebar luas di Afrika dan Eurasia pada masa lalu. Kini hanya tersisa dua spesies yang bertahan hidup, yakni Gavialis gangeticus dan Tomistoma schlegelii.

Kemiripan morfologi permukaan membuat identifikasi awal bertahan puluhan tahun. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science menguji ulang asumsi itu dengan pendekatan yang lebih dalam.

Tim gabungan dari Inggris, Swedia, Jerman, dan Mesir memakai CT scan untuk melihat struktur internal tengkorak. Evaluasi terperinci terhadap bagian dalam fosil mengungkap sejumlah perbedaan yang tidak terlihat dari permukaan.

Perbedaan yang Mengubah Klasifikasi

Hasil pemindaian memastikan Tomistoma cairense tidak berkelompok dengan Tomistoma schlegelii. Peneliti lantas menetapkan genus baru dan mengganti nama fosil tersebut menjadi Herugavialis cairensis.

Penamaan ini merujuk pada kondisi fisik fosil yang kehilangan bagian moncong, mirip dengan patung Sphinx Agung yang hidungnya telah lama hilang. Heru, atau Horus, merupakan dewa langit Mesir Kuno yang diyakini menginspirasi monumen ikonik tersebut.

"Mengingat kesamaan ini dengan hidung Sphinx Agung yang terkenal hilang, kami memutuskan untuk menamai buaya baru ini dengan nama dewa Mesir Heru, yang mungkin menjadi inspirasi bagi monumen ikonik ini," kata Philip Mannion, salah satu peneliti yang terlibat.

Dalam kepercayaan Mesir Kuno, Heru adalah dewa terpenting dan Firaun yang berkuasa dianggap sebagai perwujudan hidupnya di Bumi. Nama Herugavialis cairensis dipilih untuk menghormati dewa tersebut.

Jejak Kepunahan Buaya di Mediterania

Penulis utama penelitian, Paul Burke, menyoroti kekayaan fauna buaya di kawasan Mediterania pada masa lampau. "Selama hampir 50 juta tahun terakhir, wilayah Mediterania menjadi habitat bagi keanekaragaman buaya yang tinggi, termasuk buaya gavial," ujarnya.

Keberagaman itu berakhir sekitar enam juta tahun lalu. Peristiwa yang dikenal sebagai Krisis Salinitas Messinian membuat Laut Mediterania mengering dan memusnahkan seluruh populasi buaya di wilayah tersebut.

Temuan Herugavialis cairensis menambah daftar spesies yang hilang akibat perubahan lingkungan ekstrem. Bagi paleontologi, kasus ini menunjukkan bahwa identifikasi fosil berbasis morfologi permukaan saja bisa menyesatkan tanpa analisis struktur internal.

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks