SULAWESI SELATAN — Kementerian ESDM memastikan ketahanan stok bahan bakar minyak nasional tetap di level 18-20 hari meski antrean panjang muncul di sejumlah daerah. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyatakan antrean itu bukan akibat kekurangan pasokan, melainkan gangguan distribusi yang dipicu kondisi cuaca El Nino.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan pasokan bahan bakar minyak nasional belum berada dalam kondisi kritis. Ketahanan stok nasional tercatat 18-20 hari, angka yang menurut kementerian masih dalam batas aman untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat. Persoalan yang muncul di lapangan bukan soal jumlah stok, melainkan bagaimana BBM itu sampai ke titik-titik penyaluran.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyampaikan hal itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026. Menurut dia, antrean yang dilaporkan di beberapa wilayah lebih banyak disebabkan faktor cuaca ketimbang kekurangan persediaan. "Kalaupun kemudian terjadi antrean, antrean lebih disebabkan bukan karena ketahanan stok, tapi karena salah satunya, misalnya adalah kondisi El Nino," ujar Laode.
El Nino Keringkan Sungai, Distribusi BBM Terhambat
El Nino membuat sejumlah sungai besar di Indonesia mengalami pendangkalan dan kekeringan. Jalur sungai yang selama ini menjadi tulang punggung pengiriman BBM ke daerah pedalaman dan pesisir jadi tidak bisa dilalui seperti biasa. Kapal-kapal pengangkut BBM yang biasanya melintas terpaksa menghentikan operasi atau mengurangi frekuensi pengiriman.
Sebagai jalan keluar, distribusi dialihkan menggunakan truk tangki. Namun Laode mengakui moda darat ini tidak bisa sepenuhnya menggantikan kapal. "Contohnya misalnya lewat sungai, sungainya kering, lalu dikirim pakai truk, dan truknya ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan dengan menggunakan kapal-kapal di sungai," sambungnya.
Kesenjangan kapasitas itulah yang membuat pengiriman ke sejumlah wilayah menjadi lebih lambat dari biasanya. Antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum pun muncul sebagai efek lanjutan, bukan karena stok di depo habis.
Wilayah Mana yang Paling Terdampak
Daerah yang bergantung pada jalur sungai untuk pasokan BBM menanggung risiko paling besar. Kalimantan, Sumatera, dan sejumlah wilayah di Papua selama ini mengandalkan transportasi air untuk mendistribusikan bahan bakar ke kabupaten dan kecamatan yang jauh dari jalur darat utama. Ketika sungai tidak bisa dilalui, waktu pengiriman bisa molor berhari-hari.
Kementerian ESDM menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan badan usaha penugasan untuk memitigasi kondisi di lapangan. Langkah antisipasi dilakukan agar antrean tidak meluas dan pasokan ke daerah terpencil tetap terjaga. "Kami juga selalu bekerja sama dengan Pemda untuk dalam rangka memitigasi kondisi-kondisi yang terjadi di lapangan," tandas Laode.
Stok Aman, tapi Waspadai Musim Kering Panjang
Pemerintah memproyeksikan kondisi cuaca ekstrem masih berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Kementerian ESDM bersama Pertamina dan badan usaha penugasan lainnya diminta menyiapkan skema distribusi alternatif, termasuk penambahan armada truk dan pengaturan ulang jadwal pengiriman.
Bagi masyarakat, imbauan yang berlaku sederhana: tidak perlu menimbun BBM. Pembelian dalam jumlah wajar akan membantu menjaga kelancaran pasokan di tengah gangguan distribusi yang sifatnya sementara. Antrean yang terjadi di beberapa SPBU dilaporkan mulai surut seiring normalnya kembali sebagian jalur pengiriman.
Posisi stok 18-20 hari memberi ruang gerak bagi pemerintah untuk menstabilkan distribusi sebelum kondisi memburuk. Namun jika El Nino berlanjut hingga musim kemarau puncak, tekanan pada jalur logistik BBM diperkirakan masih akan terasa, terutama di daerah yang selama ini paling bergantung pada transportasi sungai.