SULAWESI SELATAN — Kepastian ini disampaikan langsung oleh Tim Schafer dalam wawancaranya dengan Kinda Funny Games, Kamis (12/2). Schafer menegaskan bahwa proses transfer hak cipta dari Microsoft sedang berjalan dan akan segera tuntas. "Transfer IP sudah kembali ke kami, dan kami mendapatkan hak penerbitan untuk semua game kami," ujarnya. Meski begitu, ia mengakui beberapa game masih tercatat atas nama Microsoft karena proses administrasi yang butuh waktu.
Dampak Langsung ke Kantong Studio
Kabar ini punya implikasi besar bagi masa depan Double Fine. Sebelumnya, pendapatan dari penjualan game seperti Psychonauts 2 atau Brutal Legend masuk ke kas Microsoft. Kini, setiap pembelian game lawas tersebut akan langsung menjadi "runway" atau dana operasional bagi studio untuk mengembangkan proyek baru.
"Kalau kalian penasaran, membeli game kami apa pun itu akan membantu studio," tegas Schafer. "Kami bisa mengubah uang itu menjadi pendapatan yang memperpanjang masa operasional kami." Pernyataan ini keluar setelah Xbox mengumumkan PHK besar-besaran yang memangkas 3.200 karyawan dan memisahkan Double Fine serta Compulsion Games dari struktur internalnya.
Amnesia Fortnight 2026: Cara Baru Cari Duit
Untuk memperpanjang "runway" tersebut, Double Fine langsung bergerak cepat. Studio ini membuka halaman Kickstarter untuk Amnesia Fortnight 2026, sebuah game jam yang akan berlangsung mulai 31 Agustus hingga akhir September. Konsepnya unik: para pendukung bisa memilih ide game mana yang layak masuk tahap prototipe, dan satu di antaranya akan digarap menjadi game kecil yang benar-benar dirilis.
Proses kreatifnya akan didokumentasikan penuh oleh 2 Player Productions untuk dijadikan film dokumenter. Schafer juga mengisyaratkan ada "proyek lain" yang sedang digarap di balik layar, meski belum ada detail yang bisa dibagikan.
Nasib Kiln dan Game Lainnya
Selain proyek baru, Double Fine masih merawat game lama mereka. Kiln, game multiplayer bertema tembikar yang rilis 2026, dikabarkan akan menerima update konten baru berupa map dan mode permainan. Yang mengejutkan, Schafer berjanji akan menurunkan harga game tersebut. "Karena kami gila," candanya soal keputusan menurunkan harga di tengah rencana ekspansi konten.
Keputusan ini diambil di tengah kondisi internal yang kurang ideal. Hampir seperempat tim Double Fine terkena PHK tak lama setelah status independen mereka diumumkan. Meski begitu, kembalinya hak atas judul-judul ikonik seperti Keeper dan Kiln memberi ruang napas bagi studio untuk menentukan arahnya sendiri tanpa intervensi publisher.
Bagi pemain Indonesia yang ingin berpartisipasi, membeli game Double Fine di Steam atau konsol kini punya makna lebih dalam: bukan sekadar menambah koleksi, tapi ikut mendanai studio yang sedang berusaha bertahan di tengah industri yang kian tidak ramah bagi pengembang kreatif.