Pencarian

Akuisisi EA oleh Saudi Arabia Resmi Tuntas, Karyawan Khawatir Sensor dan PHK Massal

Kamis, 20 Agustus 2026 • 09:26:01 WIB
Akuisisi EA oleh Saudi Arabia Resmi Tuntas, Karyawan Khawatir Sensor dan PHK Massal
Kesepakatan akuisisi Electronic Arts (EA) oleh Dana Investasi Publik Arab Saudi resmi rampung, memicu kekhawatiran karyawan terkait potensi sensor konten game.

SULAWESI SELATAN — Kesepakatan pembelian EA oleh Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi, yang disebut-sebut sebagai leveraged buyout terbesar dalam sejarah private equity, kini telah resmi berjalan. Di balik kepastian bisnis tersebut, laporan terbaru dari Game Developer mengungkapkan atmosfer yang mencekam di internal perusahaan. Sejumlah besar karyawan mengaku menantikan kontrol yang jauh lebih ketat terhadap jenis game yang boleh dan tidak boleh mereka buat.

Ketakutan akan Sensor dan "Sportswashing"

Kekhawatiran ini sebenarnya sudah mengemuka sejak kabar akuisisi pertama kali diumumkan. Karyawan aktif dan mantan karyawan EA sama-sama berspekulasi tentang potensi pembatasan pada game yang dianggap inklusif dan beragam, seperti The Sims. Mantan penulis utama BioWare, Trick Weekes, pernah meramalkan bahwa "game senjata dan sepak bola" akan tetap aman, tetapi konten yang berkaitan dengan "isu gay" kemungkinan besar akan dipangkas.

Seorang karyawan yang masih aktif menyatakan keyakinannya bahwa akuisisi ini hanyalah cara bagi rezim Saudi untuk mengalihkan perhatian dari catatan hak asasi manusia mereka yang "regresif" dengan mengakuisisi budaya perusahaan yang sudah mapan dan relatif progresif. Fenomena ini dikenal sebagai "sportswashing", dan memang sudah beberapa kali disinggung terkait pembelian EA.

Kekhawatiran itu bukannya tanpa dasar. Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang merupakan ketua PIF dan kini bos baru EA, secara terang-terangan mengaku ingin memanfaatkan investasi ini untuk mencapai tujuannya. "Jika sportswashing dapat meningkatkan PDB saya sebesar satu persen, maka saya akan terus melakukannya. Saya tidak peduli," ujarnya dalam wawancara dengan Fox News pada 2023 lalu.

Proyek Batal dan Moral yang Terbentur Realita

Meski berstatus perusahaan privat memberi EA kebebasan tertentu, bukan berarti mereka akan serta-merta mengadopsi agenda yang anti-inklusi. Skenario yang lebih mungkin terjadi, menurut prediksi seorang karyawan, adalah proyek-proyek game yang tidak sejalan dengan keinginan pemerintah Saudi tidak akan pernah disetujui (tidak di-sign) atau bahkan tidak akan diajukan oleh tim internal untuk menghindari konflik dengan pemilik baru.

"Tentu saja sulit merasa senang diakuisisi oleh rezim yang sangat bertentangan dengan masyarakat progresif," ujar seorang karyawan lain. "Ini jelas merugikan bagi siapa pun yang menganggap pembelian ini secara moral menjijikkan." Yang lain menambahkan, "Jika EA memiliki budaya yang memiliki integritas moral, mereka tidak akan mau bekerja sama dengan pangeran yang merasa jijik dengan seksualitas dan etnis sebagian besar karyawannya saat ini." Kehadiran Jared Kushner melalui firma investasinya, Affinity Partners, yang juga didukung dana Saudi, hanya menambah kekesalan.

Namun, keberatan moral seringkali harus mengalah pada kebutuhan praktis untuk bertahan hidup, terutama di tengah industri video game yang sedang berada dalam kondisi sangat buruk. "Saya merasa jijik setiap memikirkannya, tapi tidak ada tempat lain untuk pergi. Saya ingin keluar, tapi tidak ada lowongan pekerjaan, dan saya punya tagihan untuk dibayar," keluh seorang karyawan.

Bonus untuk Segelintir, PHK untuk Banyak Orang?

Karyawan yang memegang saham vested di EA memang akan mendapat keuntungan finansial dari penawaran premium PIF. Namun, mereka yang tidak memegang saham—termasuk banyak staf berstatus "fulltime sementara"—tidak akan mendapatkan kompensasi tersebut. Kondisi ini dinilai mencerminkan keadaan EA secara keseluruhan.

Di luar masalah moral, utang besar yang ditanggung EA untuk membiayai kesepakatan ini membuat PHK massal sepertinya hampir tidak terhindarkan. Hal yang sama berlaku untuk pembatalan game yang dinilai tidak mencapai target finansial yang cukup menguntungkan. Belum ada pengumuman resmi soal hal ini, namun suasana di kalangan karyawan level bawah jelas muram.

"Dulu ada masa di mana para eksekutif lebih terlibat dan memberikan jawaban yang lebih tulus tentang perusahaan, dan kami benar-benar merasa mereka peduli pada kami," kenang seorang karyawan. "Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu. Sekarang isinya hanya omong kosong korporat yang melelahkan."

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pcgamer.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks