SULAWESI SELATAN — Klaim bahwa kecerdasan buatan mampu memangkas beban kerja dan mendongkrak produktivitas karyawan kembali diuji. Di internal OpenAI, perusahaan yang justru mengembangkan teknologi itu, para pegawai melaporkan pengalaman sebaliknya: pekerjaan terasa lebih berat dan menumpuk sejak sistem AI diintegrasikan ke alur kerja mereka.
Bukan Mengurangi, Justru Menambah Pekerjaan Baru
Laporan internal yang beredar menunjukkan karyawan sekarang harus memverifikasi output AI, memperbaiki kesalahan logika, dan menyesuaikan hasil generatif agar sesuai standar kualitas. Alih-alih menghemat waktu, proses ini menambah lapisan tugas baru yang sebelumnya tidak ada.
Beban kognitif juga meningkat. Karyawan dituntut memahami batas kemampuan model AI dan memilah hasil yang akurat dari yang sekadar terdengar masuk akal, sebuah proses yang melelahkan secara mental.
Paradoks Produktivitas di Perusahaan AI
Situasi ini menjadi ironi tersendiri bagi OpenAI, perusahaan yang produknya dipasarkan sebagai solusi efisiensi kerja. Jika di perusahaan AI paling depan di dunia implementasi teknologi ini justru memunculkan keluhan soal beban kerja, bagaimana dengan adopsi di industri lain?
Para pengamat menilai kasus ini menyoroti kesenjangan antara klaim pemasaran AI dan realitas operasional di lapangan. Otomatisasi tidak menghilangkan pekerjaan, melainkan menggesernya ke jenis tugas baru yang membutuhkan pengawasan manusia.
Dampak pada Moral dan Retensi Karyawan
Keluhan yang terus berulang berpotensi memengaruhi moral karyawan dan tingkat retensi di OpenAI. Perusahaan yang dikenal dengan seleksi karyawan super ketat ini kini menghadapi tantangan menjaga kepuasan tim intinya.
Belum ada pernyataan resmi dari manajemen OpenAI mengenai langkah lanjutan untuk menjawab keluhan ini. Yang jelas, kasus ini menjadi studi nyata bahwa AI bukan solusi instan untuk meringankan kerja manusia, melainkan alat yang butuh adaptasi dan manajemen beban kerja ulang.
Untuk komunitas teknologi dan pekerja profesional di Indonesia yang mulai mengandalkan AI, kasus ini jadi pengingat: adopsi AI perlu disertai evaluasi berkala terhadap dampaknya pada karyawan, bukan sekadar mengejar tren efisiensi.