MAKASSAR — Peran humas di era digital tidak lagi sekadar juru bicara yang menjawab pertanyaan media. Sekretaris Umum Perhumas Indonesia, Benny Siga Butar Butar, menilai praktisi humas harus mampu membaca peluang dan risiko jangka panjang, bukan hanya bertindak ketika masalah sudah memanas.
Hal itu ia sampaikan dalam talkshow "Reinventing PR through Multidimensional Communication Crisis" yang menjadi rangkaian pelantikan pengurus BPC Perhumas Makassar, Sabtu. Benny yang juga Direktur Umum LKBN ANTARA itu memaparkan lima kelemahan fundamental yang masih menghambat praktik kehumasan di Indonesia.
Lima Kelemahan yang Membuat Humas Sulit Naik Kelas
Benny merinci kelemahan pertama ada pada kemampuan perencanaan strategis. Menurutnya, humas dituntut mampu memproyeksikan kondisi organisasi lima hingga sepuluh tahun ke depan, bukan hanya sibuk dengan agenda harian.
Kedua, kampanye strategis. Ia menegaskan kampanye komunikasi tidak boleh berhenti pada satu kali eksekusi, melainkan dirancang berkelanjutan dengan dampak yang terukur. Ketiga, kemampuan media relations harus ditingkatkan menjadi media strategis seiring perubahan ekosistem industri media dan konsolidasi kepemilikan.
Krisis Komunikasi Bukan Sekadar Manajemen Krisis
Kelemahan keempat yang menjadi tantangan terbesar adalah penanganan krisis komunikasi. Benny membedakan tegas konsep ini dengan manajemen krisis pada umumnya. Komunikasi krisis, kata dia, menyangkut cara pesan disampaikan kepada publik yang karakternya berbeda-beda.
"Komunikasi krisis itu bicara tentang bagaimana kita menyampaikan pesan. Bagaimana cara yang baik untuk rakyat. Rakyat berbeda-beda, komunitas berbeda-beda, media juga berbeda-beda. Itu pentingnya memahami komunikasi," ujarnya.
Kelemahan kelima adalah evaluasi diri. Keberhasilan program komunikasi hari ini, lanjut Benny, belum tentu relevan untuk tantangan masa depan. Kompleksitas persoalan yang meningkat menuntut rumusan dan pendekatan baru.
Reinventing Cara Kerja Humas di Makassar
"Apabila lima kelemahan tersebut tidak segera dibenahi, posisi humas akan terus berada pada level pemadam kebakaran dan sulit masuk ke dalam proses pengambilan keputusan strategis organisasi," urainya.
Menjawab pertanyaan tentang cara menangkal pemberitaan negatif, Benny menekankan pentingnya perubahan pola pikir dari reaktif menjadi proaktif. Humas perlu melakukan reinventing, yakni menemukan kembali cara berpikir yang adaptif terhadap perkembangan informasi.
Ia menyarankan pemanfaatan instrumen media monitoring untuk memahami percakapan dan sentimen publik terhadap organisasi. Dengan data itu, humas dapat mengambil langkah antisipatif sebelum isu berkembang menjadi krisis.
Talkshow ini sekaligus menjadi momentum bagi pengurus Perhumas Makassar yang baru dilantik untuk mendorong praktik kehumasan yang lebih strategis di wilayah timur Indonesia.