Pencarian

Dosen Palopo Kritiskan Simbolisme Kebangkitan Nasional vs Realitas Pendidikan yang Karut-Marut

Jumat, 22 Mei 2026 • 10:25:01 WIB
Dosen Palopo Kritiskan Simbolisme Kebangkitan Nasional vs Realitas Pendidikan yang Karut-Marut
Dosen Palopo kritik ketimpangan pendidikan di tengah simbolisme Kebangkitan Nasional.

PALOPO — Perdebatan mengenai titik awal Kebangkitan Nasional antara Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1905 dan Budi Oetomo pada 1908 memang menarik, namun Abdul Zahir memilih untuk tidak larut di dalamnya. Ia justru mengoneksikan tiga momentum di bulan Mei—Hardiknas, Harkitnas, dan Iduladha—dengan kondisi riil pendidikan dan moralitas bangsa.

Menurut Abdul Zahir, pendirian Budi Utomo pada 20 Mei 1908 merupakan lompatan filosofis dari perlawanan fisik kedaerahan menuju perjuangan berbasis nalar kolektif. Tujuannya jernih: memerdekakan manusia dari kebodohan demi kemandirian politik dan martabat.

Simulakra Politik dan Tiga Penyakit Mental Akut

Namun, realitas hari ini dinilainya kontras. Abdul Zahir menyebut bangsa ini mengalami simulakra politik—simbol kemajuan dipamerkan, tapi fondasi etika keropos. Ia mengidentifikasi tiga penyakit mental akut: mental korupsi yang menormalisasi pencurian hak publik, mental utang yang menggadaikan masa depan, dan mental penjilat yang mematikan nalar kritis.

"Kebangkitan nasional kini sering kali menyusut menjadi seremoni tahunan yang kehilangan substansi keadaban publik," tulis Abdul Zahir dalam tulisannya yang dimuat Antaraya Media.

Anggaran Pendidikan Ratusan Triliun, Mutu Literasi Terabaikan

Krisis moral ini berkelindan dengan potret dunia pendidikan. Abdul Zahir mengkritik program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap anggaran fantastis hingga ratusan triliun rupiah dari total anggaran pendidikan. Menurutnya, program itu bias elektoral dan belum menyentuh substansi pedagogis.

Alokasi dana yang tersedot untuk logistik ini secara tidak langsung menekan pos krusial lain. Esensi peningkatan mutu literasi, numerasi, dan sains yang menjadi rapor merah Indonesia di tingkat global kian terabaikan.

Ketimpangan Struktural dan Guru yang Terjebak Kemiskinan

Di akar rumput, ketimpangan struktural menganga. Distribusi anggaran ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) masih menyisakan sekolah-sekolah nyaris roboh tanpa fasilitas teknologi memadai. Pendidikan gagal menjadi social elevator bagi kelas bawah karena komersialisasi terselubung dan akses kualitas yang timpang.

"Anak-anak di pedalaman dipaksa berkompetisi di arena yang sama dengan anak-anak kota besar tanpa modal fasilitas setara," tulisnya. Meski ada program "Sekolah Rakyat", ia menilai program itu masih ajang coba-coba dan kurang terpola.

Persoalan kesejahteraan guru juga disorot. Abdul Zahir menyebut banyak guru—terutama honorer—terjebak dalam kemiskinan struktural. Birokrasi tunjangan profesi yang berbelit dan disparitas pendapatan membuat profesi ini kehilangan daya pikat bagi talenta terbaik bangsa.

Iduladha: Momentum Dekonstruksi Egoisme Manusia

Abdul Zahir kemudian mengaitkan krisis ini dengan esensi Iduladha. Ia menulis bahwa kurban secara filosofis-teologis adalah dekonstruksi radikal terhadap egoisme manusia (al-ananiyah). Momentum ini, menurutnya, relevan sebagai daya kejut spiritual untuk mengurai benang kusut antara matinya ruh kebangkitan dan krisis pendidikan nasional.

"Bagaimana mungkin kita menuntut seorang guru menyalakan lilin pengetahuan di dalam kelas, sementara di rumah mereka harus memikirkan cara menyambung hidup untuk esok hari?" tanyanya retoris.

Bagikan
Sumber: antaraya.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks