SIDRAP — Sejumlah ibu hamil dan kader posyandu di Desa Kulo, Sidrap, mendapat pendampingan khusus dari mahasiswa KKN-PK Unhas. Mereka diajarkan cara memantau tumbuh kembang janin hingga balita melalui Buku KIA dan Kartu Menuju Sehat (KMS), Minggu (19/7/2026).
Program bertajuk PELITA—Pendampingan dan Edukasi Antenatal Care dan Pemanfaatan Buku KIA—ini digelar di Rumah Gizi Desa Kulo. Tidak hanya teori, mahasiswa juga melakukan demonstrasi langsung penggunaan buku panduan kesehatan tersebut.
Pre-test dan Post-test Ukur Pemahaman Ibu Hamil
Tim mahasiswa tidak sekadar memberi materi. Mereka mengukur tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan lewat pre-test dan post-test. Hasilnya, terjadi peningkatan signifikan setelah sesi interaktif yang meliputi presentasi, diskusi, dan tanya jawab.
Bidan Desa Kulo, Nurul Ain, mengakui masih banyak ibu hamil yang membawa Buku KIA tetapi belum paham cara membacanya. “Stunting dapat dicegah apabila ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan kehamilan, memenuhi kebutuhan gizi, serta memanfaatkan Buku KIA sebagai panduan memantau kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Pencegahan Stunting
Program PELITA diinisiasi oleh Shafira Alya Putri Zulfikar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unhas, bersama tim KKN-PK Angkatan 69. Mereka menggandeng bidan desa, kader posyandu, hingga pengelola Rumah Gizi untuk memperkuat literasi kesehatan masyarakat.
Shafira menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama. “Kolaborasi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, kader, dan pemerintah desa diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan stunting melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya Antenatal Care (ANC) dan pemanfaatan Buku KIA pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” katanya.
Mengapa 1.000 Hari Pertama Kehidupan Jadi Fokus?
Periode 1.000 hari pertama kehidupan—dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun—dianggap sebagai jendela kritis pertumbuhan. Jika asupan gizi dan pemantauan kesehatan pada masa ini buruk, risiko stunting sulit dikoreksi di kemudian hari.
Kegiatan ini berada di bawah bimbingan Dosen Supervisor Lapangan, Syahrul, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB. Desa Kulo sendiri masih mencatat sejumlah kasus stunting, sehingga edukasi berkelanjutan seperti ini dinilai vital untuk membangun kesadaran masyarakat dari hulu.