Pencarian

Studio Polyarc Pengembang Moss Tutup, 29 Karyawan Cari Kerja

Sabtu, 12 September 2026 • 12:37:31 WIB
Studio Polyarc Pengembang Moss Tutup, 29 Karyawan Cari Kerja
Studio Polyarc resmi mengumumkan penutupan operasional setelah hampir 12 tahun berkarya.

SULAWESI SELATAN — Kabar penutupan Polyarc disampaikan langsung melalui halaman LinkedIn resmi studio yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat itu. Langkah ini menandai berakhirnya perjalanan salah satu pengembang VR paling awal yang berhasil menembus pasar konsumen mainstream.

Dalam pernyataan resminya, manajemen Polyarc menyampaikan pesan perpisahan kepada seluruh tim. Mereka menyebut keputusan ini sebagai akhir dari perjalanan panjang yang penuh dinamika selama lebih dari satu dekade.

"After nearly 12 years riding the joyous rollercoaster of emotions that is making video games, our time together has come to an end," tulis Polyarc. "As we wind down active development, we are saying our farewells to each other. Working together over all of these years has been an honor. Bringing surprise and delight to those who played our games has been a privilege. Thank you to everyone at Polyarc, our work is now finished."

Jejak Moss di Ekosistem VR

Polyarc pertama kali dikenal lewat Moss, game action-adventure yang menempatkan pemain sebagai pengamat di luar level bergaya diorama. Pemain mengendalikan Quill, karakter tikus kecil, sambil bisa mengintip ke berbagai sudut lingkungan virtual.

Formula itu terbukti efektif. Moss menjadi salah satu judul favorit awal di PlayStation VR, lalu ikut diporting ke Oculus Quest dan dirilis sebagai launch title. Sekuelnya, Moss: Book II, hadir di PSVR, Quest, SteamVR, dan Pico.

Studio ini juga sempat merilis Glassbreakers, game strategi multiplayer yang menjadi salah satu dari sedikit judul VR untuk Apple Vision Pro. Langkah tersebut menunjukkan ambisi Polyarc menjangkau perangkat VR premium di luar ekosistem Meta dan Sony.

Upaya Terakhir Tanpa Headset VR

Pada Mei 2026, Polyarc mencoba memperluas basis pemain dengan merilis Moss: The Forgotten Relic. Judul ini menggabungkan seluruh seri Moss ke dalam satu paket dan mendesain ulang gameplay agar bisa dimainkan tanpa headset VR.

Sejauh mana penjualan game tersebut tidak dipublikasikan secara resmi. Namun, hasilnya dinilai tidak cukup untuk mempertahankan operasional studio di tengah tekanan biaya pengembangan.

Tekanan Ekosistem VR yang Berubah

Faktor yang lebih besar kemungkinan datang dari pergeseran strategi industri. Meta mulai mengalihkan fokus dari metaverse ke produk berbasis AI pada awal tahun ini. Perusahaan itu menutup beberapa studio VR internalnya sendiri.

Penarikan diri Meta dari ekspansi agresif di ruang VR membuat pendanaan untuk game VR baru semakin sulit didapat. Bagi studio independen seperti Polyarc, akses ke pendanaan dan dukungan platform menjadi penentu kelangsungan hidup.

Game Tetap Bisa Dibeli

Meski studio tutup, seluruh game Polyarc masih tersedia untuk dibeli di platform masing-masing. Pengguna yang memiliki headset VR dan belum mencoba seri Moss bisa menjadikannya sebagai salah satu judul yang layak dimainkan.

Penutupan Polyarc menambah daftar panjang studio VR yang gulung tikar dalam dua tahun terakhir. Bagi pasar Indonesia, dampaknya lebih terasa pada ketersediaan konten VR lokal di platform seperti Steam dan Meta Quest Store yang kehilangan salah satu pengembang konsistennya.

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks