MAKASSAR — Jika setiap perangkat daerah mampu memproduksi satu buku per tahun, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memperkirakan akan ada sekitar 150 judul baru yang bisa didistribusikan ke sekolah-sekolah. Buku-buku itu nantinya disalurkan ke puluhan SMP dan ratusan SD di Makassar yang membutuhkan bahan bacaan kontekstual.
ASN Wajib Punya Karya, Tak Harus Akademik Berat
Munafri mendorong ASN, khususnya pejabat eselon III seperti kepala bidang, kepala subbagian, hingga kepala dinas, untuk menghasilkan karya tulis. Ia menekankan bahwa buku yang ditulis tidak harus bersifat akademik berat, melainkan bisa disusun dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami pelajar SD dan SMP.
"ASN harus punya karya. Minimal satu buku yang bisa menjadi pegangan, baik sebagai referensi maupun bentuk penguatan literasi personal dan institusional," ujar politisi Golkar itu dalam talkshow yang digelar Perpustakaan Universitas Hasanuddin.
Konten Buku: dari Sampah hingga Pola Hidup di Ruang Terbatas
Menurut Munafri, konten buku diharapkan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan tema seperti pengelolaan sampah, kepedulian terhadap lingkungan dan hewan, hingga pola hidup di ruang terbatas. Langkah ini disebutnya sebagai strategi konkret menghadirkan literasi yang aplikatif dan dekat dengan masyarakat.
Acara yang mengusung tema "Penguatan Budaya Literasi Akademik di Era Transformasi Digital" itu juga dihadiri Bunda Literasi Kota Makassar sekaligus Bunda PAUD, Melinda Aksa.
Perpustakaan Bukan Sekadar Tempat Membaca
Di hadapan peserta, alumni FH Unhas itu menekankan peran perpustakaan sebagai ruang asimilasi berbagai disiplin ilmu dan komunitas. Menurutnya, perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang interaksi intelektual yang mempertemukan beragam gagasan.
"Perpustakaan adalah ruang pertemuan berbagai segmen," jelasnya.
Digitalisasi Jadi Jembatan, Bukan Pengganti Buku Fisik
Dalam konteks transformasi digital, Munafri menegaskan bahwa digitalisasi bukanlah pengganti buku fisik, melainkan jembatan untuk memperluas akses literasi. Ia menekankan perlunya keseimbangan antara buku cetak dan platform digital dalam proses pembelajaran.
"Digitalisasi tidak menghilangkan buku teks, tetapi menjadi penghubung menuju akses yang lebih luas. Kita harus membangun kombinasi yang baik antara keduanya," katanya.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Munafri menyebut penguatan literasi tidak bisa berjalan maksimal tanpa sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, penerbit, serta seluruh pemangku kepentingan. Ia mencontohkan setiap persoalan pembangunan kota juga didiskusikan dengan pihak kampus untuk mendapatkan berbagai perspektif dan solusi.
"Artinya, kolaborasi menjadi kunci dalam membangun kota, termasuk dalam penguatan literasi," ungkapnya.
Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Perpustakaan terus menggalakkan program literasi secara rutin, termasuk kegiatan edukasi yang menjangkau masyarakat hingga tingkat kelurahan. Munafri optimistis perpustakaan daerah yang modern dapat menjadi salah satu yang terbaik di Sulawesi Selatan dalam waktu dekat.