SULAWESI SELATAN — Laporan Bloomberg mengonfirmasi iPhone Ultra bakal menjadi produk paling menarik dari Apple dalam beberapa tahun terakhir. Gurman, yang reputasinya akurat soal bocoran produk Apple, mengaku telah berbicara dengan sejumlah orang yang mencoba perangkat ini. Kesan pertama mereka positif, terutama pada kemampuan lipat yang ringkas, ketahanan engsel, dan tata letak aplikasi ala iPad di layar besar.
Namun, satu hal mengganjal. Gurman menyoroti absennya kamera telefoto di tengah antusiasme tersebut. Ini bukan keputusan kecil, mengingat rumor harga perangkat ini berkisar USD 2.000 hingga USD 2.500. Di kelas harga segitu, ekspektasi terhadap kemampuan kamera pasti berada di level tertinggi.
Gurman dengan lugas menyebut diagram Venn antara pembeli ponsel di atas USD 2.000 dan penuntut sistem kamera terbaik "mungkin hampir membentuk lingkaran penuh". Artinya, pasar iPhone Ultra adalah pasar yang paling peduli pada kualitas fotografi. Sayangnya, prediksi Gurman menyebut kamera iPhone Ultra tidak akan dianggap sebagai "sistem kamera terbaik yang Apple bisa tawarkan" setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.
Apple punya rekam jejak bagus dalam pemrosesan gambar komputasional. Kamera utama dan ultrawide di iPhone Ultra hampir pasti menghasilkan foto yang sangat baik. Tapi untuk zoom, andalan "optical quality" dan software enhancement punya batas. Contoh nyatanya ada di lini Samsung Galaxy Z Fold. Dalam perbandingan foto yang pernah kami lakukan, hasil zoom Z Fold 8 kalah jauh dibandingkan varian Ultra yang punya lensa zoom khusus. Bahkan performa zoom Z Fold 8 Ultra pun masih di bawah Galaxy S26 Ultra yang lebih bertenaga. Ini sinyal kuat bahwa tanpa lensa fisik, kemampuan zoom ponsel lipat belum bisa menyaingi flagship biasa.
Kabar baiknya, bukan hanya soal kamera. Layar lipat besar di iPhone Ultra disebut sangat impresif untuk produktivitas, menonton video, dan bermain game. Konsep ponsel yang berubah menjadi tablet ini memang keunggulan utama yang tidak dimiliki iPhone biasa. Sifat dual-purpose ini diprediksi bakal jadi juru selamat penjualan, terutama bagi mereka yang mampu membayar harga selangit.
Menariknya, Gurman juga menyebut penggunaan Touch ID dibandingkan Face ID tidak akan jadi masalah besar. Alasannya, sensor sidik jari masih dipakai di lini Mac dan iPad. Ini keputusan desain yang masuk akal untuk perangkat lipat, dan pengguna kemungkinan besar akan cepat beradaptasi.
Kita tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui kebenaran semua bocoran ini. Acara September Apple dijadwalkan berlangsung dalam waktu kurang dari dua minggu. Di sanalah kita akan melihat apakah Apple benar-benar berani menghadirkan ponsel lipat tanpa lensa telefoto di segmen harga paling premium. Keputusan ini akan menentukan apakah iPhone Ultra menjadi produk paling sukses atau justru catatan kaki yang mahal dalam sejarah Apple.