Pencarian

Menko Perekonomian Pastikan Harga Pertalite Aman Sampai Desember, Pertamax Justru Turun

Kamis, 06 Agustus 2026 • 02:59:01 WIB
Menko Perekonomian Pastikan Harga Pertalite Aman Sampai Desember, Pertamax Justru Turun
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga Pertalite tidak naik hingga Desember 2026.

SULAWESI SELATAN — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan jaminan bahwa harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dipastikan aman atau tidak mengalami kenaikan hingga Desember 2026. Pernyataan ini disampaikan langsung dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (13/8).

"Untuk Pertalite, dijamin harga sampai bulan Desember aman. Jadi ini sudah masuk dalam buffer," ucap Airlangga di hadapan awak media.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang memerintahkan agar harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak dinaikkan, meskipun harga minyak mentah dunia masih menunjukkan dinamika yang tinggi.

Pertamax Turun Harga per 1 Agustus 2026

Berbeda dengan BBM bersubsidi, pemerintah justru mempertimbangkan penyesuaian harga BBM non-subsidi apabila Indonesian Crude Price (ICP) di pasar dunia mengalami penurunan. PT Pertamina (Persero) telah bergerak lebih dulu dengan melakukan penyesuaian harga secara bertahap.

Per 1 Agustus 2026, berikut daftar perubahan harga BBM non-subsidi Pertamina:

  • Pertamax: turun dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter
  • Pertamax Green 95: turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter
  • Pertamax Turbo: turun dari Rp19.300 per liter menjadi Rp18.300 per liter

Sementara itu, harga Pertalite tetap bertahan di angka Rp10 ribu per liter, dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

B50 Jadi Shock Absorber Tekanan Geopolitik

Di tengah ketidakpastian akibat konflik di Selat Hormuz, pemerintah mengandalkan penerapan B50 sebagai tameng ketahanan energi nasional. Airlangga menyebut program pencampuran biodiesel ini memberikan tiga manfaat utama sekaligus.

Manfaat tersebut mencakup pengurangan ketergantungan pada impor solar, membuat Indonesia lebih tahan terhadap gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, hingga mengurangi beban subsidi energi dari APBN.

"Arahan bapak Presiden juga di tengah ketidakpastian daripada perang di Selat Hormuz, BBM tetap kita jaga resiliensinya, dimana APBN sebagai shock absorber itu menjaga agar dengan diterapkannya B50. Maka, kita tidak lagi impor solar dan sebetulnya dengan harga sekarang juga relatif pemanfaatan subsidi relatif kecil untuk B50," ungkap dia.

Dengan tidak adanya impor solar, pemerintah menilai beban APBN terhadap subsidi energi menjadi jauh lebih ringan dibandingkan skenario tanpa B50. Hal ini pula yang menjadi alasan utama harga Pertalite dan Biosolar mampu bertahan stabil hingga penghujung tahun.

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks