Banjir Bandang Nepal Renggut 200 Jiwa, Puluhan Warga Masih Hilang

Penulis: Aditya Nugraha  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 13:52:01 WIB
Tim SAR mengevakuasi korban banjir bandang di Distrik Rasuwa, Nepal.

SULAWESI SELATAN — Bencana hidrometeorologi yang menerjang Nepal pada pekan ini telah melumpuhkan sejumlah distrik di kawasan utara yang berbatasan langsung dengan China. Material lumpur pekat setinggi bangunan satu lantai menenggelamkan rumah-rumah warga, jembatan, dan jaringan infrastruktur vital dalam hitungan menit.

Dua Titik Terparah: Girong Port dan Distrik Rasuwa

Pemerintah Nepal memusatkan operasi darurat di dua lokasi episentrum, yakni pelabuhan penyeberangan Girong Port dan Distrik Rasuwa. Kedua wilayah ini menjadi akses utama jalur perdagangan dan mobilitas penduduk lintas batas, sehingga dampak kerusakannya melumpuhkan konektivitas darat antara Nepal dan Tibet.

Helikopter-helikopter militer dikerahkan untuk melakukan supply check dari udara dan menjatuhkan bantuan logistik ke kantong-kantong permukiman yang terisolasi. Arus sungai yang membengkak memutus akses darat, memaksa tim penyelamat mengandalkan armada udara untuk menjangkau korban selamat.

Korban Jiwa Bertambah, Wisatawan Asing Ikut Terdampak

Jumlah korban tewas terus bertambah seiring proses evakuasi yang berjalan. Data terakhir dari otoritas setempat mencatat ratusan lainnya dilaporkan hilang, dengan dugaan kuat terjebak di bawah timbunan lumpur atau terseret arus sungai yang deras.

Tim SAR gabungan memfokuskan pencarian di alur sungai dan puing-puing bangunan yang runtuh. Kawasan Rasuwa yang menjadi pintu masuk jalur pendakian populer memicu kekhawatiran adanya pendaki mancanegara yang ikut menjadi korban saat banjir datang mendadak.

Proses identifikasi korban berjalan paralel dengan upaya pencarian. Pemerintah Nepal belum merilis data resmi kewarganegaraan para korban, namun tim medis telah disiagakan di rumah sakit rujukan terdekat untuk menangani lonjakan pasien gawat darurat.

Mengapa Banjir Bandang Ini Begitu Mematikan

Karakteristik banjir bandang di wilayah Himalaya berbeda dengan banjir biasa. Material yang terbawa arus bukan hanya air, melainkan campuran lumpur kental, bebatuan besar, dan pecahan es dari gletser yang longsor. Kekuatan hantamannya mampu meratakan bangunan beton sekaligus mengubur area permukiman dalam waktu singkat.

Letak geografis pemukiman yang berada di lembah sempit dan dekat dengan aliran sungai membuat warga tidak memiliki waktu evakuasi yang cukup. Gelombang datang tanpa peringatan dini yang memadai, langsung menghantam kawasan padat penduduk di distrik perbatasan.

Operasi pencarian akan terus berjalan dalam beberapa hari ke depan seiring cuaca yang mulai membaik. Pemerintah Nepal tengah menyiapkan skema relokasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal serta memulihkan akses logistik ke wilayah perbatasan China yang sempat terputus total.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top