Burhanuddin Abdullah di Usia 79 Tahun: Dari Penjaga Stabilitas Moneter hingga Dewan Pakar Gerindra

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:44:01 WIB
Burhanuddin Abdullah menghadiri kegiatan sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Gerindra di Sulawesi Selatan.

SULAWESI SELATAN — Publik mengenal Burhanuddin Abdullah sebagai ekonom yang berhasil membawa Bank Indonesia keluar dari bayang-bayang krisis. Namun perjalanan hidupnya justru menunjukkan bahwa karier tidak selalu berjalan lurus—ia sempat mencapai puncak, jatuh dalam pusaran hukum, lalu bangkit kembali dengan peran baru di panggung politik.

Warisan Stabilitas di Tengah Krisis

Ketika memimpin Bank Indonesia pada 2003–2008, Indonesia masih tertatih meninggalkan trauma krisis ekonomi Asia. Kepercayaan investor belum pulih, inflasi mengancam, dan nilai tukar rupiah rentan terhadap gejolak global. Kondisi APBN juga rapuh dengan utang yang bertumpuk.

Pada masa itulah Burhanuddin memperkuat kerangka kebijakan moneter dan membangun kredibilitas bank sentral. Hasilnya diakui hingga kancah internasional—Global Finance menempatkannya sebagai salah satu dari lima gubernur bank sentral terbaik dunia pada 2007, sebuah pengakuan atas keberhasilannya menjaga stabilitas ekonomi dan membangun kepercayaan komunitas keuangan global.

Kontroversi YLPPI dan Vonis yang Dijalani

Hidup berubah ketika Burhanuddin terseret kasus penggunaan dana Yayasan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (YLPPI) senilai Rp100 miliar. Dana tersebut digunakan untuk bantuan hukum lima mantan pejabat BI, penyelesaian kasus BLBI, dan amandemen Undang-Undang BI.

Fakta persidangan menunjukkan ia baru menjabat ketika proposal penggunaan dana yang telah disiapkan sebelumnya membutuhkan persetujuan Gubernur BI. Keputusan yang dihadapinya merupakan bagian dari rangkaian kebijakan kolegial yang telah berjalan. Meski pengadilan gagal membuktikan niat jahat atau pengayaan diri, Burhanuddin tetap divonis dan menjalani hukuman hingga tuntas.

Bangkit dan Kembali Dipercaya

Setelah menyelesaikan seluruh konsekuensi hukum, Burhanuddin tidak tercerabut dari akar sosialnya. Hari pembebasannya dari LP Sukamiskin diwarnai penyambutan ratusan orang. Komunitas intelektual dan ekonom menerima kembali kehadirannya, bahkan memberikan tanggung jawab lebih besar.

Partai Gerindra besutan Prabowo Subianto kemudian mendapuknya sebagai ketua dewan pakar. Kini di usia 79 tahun, ia hadir sebagai pembawa obor pemerintah di isu ekonomi—bukan sebagai politikus yang membangun panggung, melainkan dengan pengetahuan soal angka, inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan.

Pelajaran dari Jalan Panjang Pengabdian

Sebagian orang mungkin masih memperdebatkan masa lalunya, dan demokrasi memang memberi ruang bagi perbedaan penilaian. Namun satu fakta tidak dapat diperdebatkan: Burhanuddin Abdullah telah menjalani hukuman yang dijatuhkan kepadanya.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa seorang manusia bisa mencapai puncak, jatuh sangat dalam, lalu bangkit bukan untuk membalas masa lalu, melainkan untuk terus memberi manfaat. Di usia senjanya, ambisi telah digantikan kebijaksanaan—ia memilih menjadi mentor dan kawan diskusi daripada mengejar kursi.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top