SULAWESI SELATAN — Hubungan Elton John dengan Watford FC adalah salah satu kisah cinta paling unik dalam sejarah sepak bola Inggris. Ini bukan tentang uang atau popularitas, melainkan tentang seorang superstar global yang menemukan pelarian dari gemerlap showbiz di klub kecil yang tidak fashionable. Kecintaannya pada Watford diwarisi dari sang ayah, Stanley, dan pamannya, Roy Dwight, yang mencetak gol namun patah kaki di final Piala FA 1959.
Pada 1959, Elton—yang saat itu masih bernama Reggie Dwight—adalah anak sekolah gemuk berusia 13 tahun yang senang menonton Watford dari balik lintasan greyhound di Vicarage Road. Dua belas tahun kemudian, ia kembali bukan sebagai penonton, melainkan sebagai calon investor. Lewat manajernya, Vic Lewis, Elton menyatakan ingin terlibat. Awalnya, ketua klub Jim Bonser curiga. Namun pertemuan tatap muka mengubah segalanya.
"Saya akan bayar. Saya di sini untuk membantu, bukan untuk menumpang," kata Elton saat ditawari posisi wakil presiden dengan bayaran £50 per tahun. Sikapnya yang sopan—bahkan memanggil Bonser dengan sebutan "Sir"—membuat sang ketua terkesan. Pada 1976, Elton resmi mengambil alih klub dari Bonser.
Menjadi bos klub sepak bola tidak membuat Elton meninggalkan gaya hidupnya yang flamboyan. Rapat dewan direksi kadang digelar di tempat tak lazim seperti Paris, Milan, dan Wina. Pada satu kesempatan, Elton datang terlambat ke sebuah restoran hotel mewah di Wina—saat itu ia sedang tur konser—dengan mengenakan kostum lengkap Wolfgang Amadeus Mozart, lengkap dengan wig putih.
"Andai ada jarum jatuh, pasti terdengar," kenang direktur Muir Stratford tentang momen hening saat Elton memasuki ruangan.
Ketika Watford mengalami masa sulit, Elton justru sulit dihubungi. Namun jika timnya menang, ia selalu tahu. Saat sedang tur di Auckland atau lokasi lain, ia rutin menelepon sebelum pertandingan untuk mendapat susunan pemain, lalu mendengarkan siaran radio lokal selama dua jam penuh. Untuk pertandingan tandang, ia menelepon ibunya sepanjang sore untuk mendapat update dari teletext.
Saking antusiasnya, Elton bahkan pernah menyewa pesawat pribadi untuk terbang ke Workington demi menonton pertandingan Divisi Empat, lalu pulang naik kereta bersama rombongan tim. Saat staf kereta tak muncul untuk menyiapkan makanan, ia ikut membantu melayani para pemain—dan menerima ledekan "Ada mustard, Tuan?" dari para pemain.
Tidak semua momen indah. Setelah mengumumkan biseksualitasnya pada 1976, suporter Rochdale menjadi yang pertama meneriakkan "Elton John seorang homoseksual." Di dalam toilet ruang ganti, ia pernah mendengar pendukung tim lawan bercanda soal kekalahan Watford dan menyebutnya dengan kata kasar. Manajer Graham Taylor menyarankannya untuk menunjukkan sportivitas dengan memberi selamat pada direktur tim lawan. Elton melakukannya, lalu kembali dan berkata, "Persetan kau," sebelum pulang.
Di bawah kepemimpinannya, Watford dikenal sebagai pelopor konsep "klub keluarga"—bebas hooligan, ramah anak, bahkan dipuji di parlemen. Elton membagikan telur Paskah dan hadiah Natal untuk suporter junior. Ambisinya besar: membawa Watford dari Divisi Empat ke Eropa. Graham Taylor, yang diyakini sebagai "pelatih muda terbaik" oleh manajer Timnas Inggris Don Revie, dipercaya mewujudkannya.
Target sepuluh tahun tercapai dalam lima tahun. Watford promosi ke Divisi Satu pada 1982, menjadi runner-up di belakang Liverpool pada 1983, dan mencapai final Piala FA 1984—disaksikan Elton yang menangis bersama istrinya, Renata. Biayanya? Sekitar £1,2 juta, nyaris sesuai perkiraan awal.
Pada 1987, setelah dihantui pemberitaan media tabloid tentang kehidupan pribadinya, Elton menjual klubnya. Ia hanya menerima £1 sebagai pelunasan pinjaman £4 juta. Namun ia tak bisa pergi jauh. Ia kembali sebagai direktur, lalu ketua kehormatan, dan pada 1997 memimpin konsorsium yang membawa Taylor kembali. Meski hanya menghadiri sedikit pertandingan pada periode keduanya—karena "istrinya tidak suka sepak bola"—ia tetap menelepon para manajer dan mendanai pembelian pemain.
Hubungannya dengan Taylor adalah fondasi segalanya. "Dia seperti saudara bagiku," kata Elton. Taylor mengenang momen tak terlupakan ketika mereka pulang mabuk dari resepsi Kedutaan China dan bernyanyi lagu Natal di depan rumah-rumah warga—salah satu "pencapaian" paling aneh dalam karier manajerialnya.
Yang tersisa kini adalah kenangan. Vicarage Road, stadion yang dulu ia bangun, tetap berdiri. Dan di belakang tribun, di tempat yang dulu menjadi semak blackberry tempat dua remaja—satu jurnalis lokal, satu calon rockstar—berdiri di tahun 1959, hanya ada rumput dan beton. Namun cinta Elton pada Watford tidak pernah pudar. Ia membuktikan bahwa di balik wig Mozart dan kacamata berkilau, ada seorang suporter sejati yang hanya ingin melihat timnya menang.