SULAWESI SELATAN — Amazon MGM Studios Jepang resmi menggandakan investasi untuk konten orisinal Jepang, mencakup perluasan produksi film dan serial live-action. Kepala studio Buddy Marini menyampaikan hal ini dalam panel hari pembuka TIFFCOM yang juga menghadirkan showrunner One Piece Steven Maeda dan produser Kingdom Shinzo Matsuhashi.
Buddy Marini, yang menjabat sebagai head of Japan Amazon MGM Studios sejak Maret, menyebut penggandaan investasi itu tanpa menyebut angka pasti. Studio ini menggandeng sejumlah mitra produksi untuk mempercepat pembuatan konten live-action dan anime Jepang, mulai dari Studio Dragon asal Korea hingga Credeus, Toho, TV Tokyo, dan Wowow.
Fokus utama memang pasar Jepang. Namun Marini menegaskan bahwa konten tersebut dirancang agar bisa menembus audiens global.
Dari Agregator Menuju Konten Orisinal
Marini menjelaskan pergeseran strategi Amazon Prime yang sebelumnya berperan sebagai agregator konten. Bisnis itu tumbuh pesat, tetapi perusahaan kini ingin lebih banyak memproduksi karya sendiri, tidak hanya di Jepang tetapi juga di seluruh dunia.
“Amazon Prime has been acting as an aggregator for content, and we grew that business very successfully, but going forward we wanted to focus more on original content – not just in Japan but worldwide,” ujar Marini dalam panel bertajuk “Unlocking the Global Potential of Japanese IP” yang digelar Motion Picture Association dan UniJapan tersebut.
Studio ini memproduksi konten lintas genre dan format, mencakup drama, anime, hingga film layar lebar. Tujuannya jelas: menjangkau audiens seluas mungkin.
The Apothecary Diaries hingga Yakuza Masuk Daftar
Salah satu proyek yang diperkenalkan adalah adaptasi live-action novel ringan populer The Apothecary Diaries. Mana Ashida didapuk memerankan tokoh utama Maomao, dengan produksi bersama Toho yang akan tayang eksklusif di Prime Video pada 2028.
“While the anime is popular worldwide, this has been entirely produced in Japan by Japanese staff members and cast. We’re aiming for global audiences, although there are not so many cases like this,” kata Marini.
Selain itu, ada Chloe And Emma hasil kolaborasi dengan Wowow yang sudah tayang di Prime Video sejak Juni 2026, serta Criminal (Hanzaisha) garapan sutradara Daishi Matsunaga bersama TV Tokyo yang rilis Maret. Deretan judul lama mencakup versi Jepang dari serial Korea Marry My Husband, adaptasi manga The Silent Service, dan Like a Dragon: Yakuza yang diangkat dari gim Sega.
Standar Internasional Jadi Target
Marini menekankan bahwa kualitas konten menjadi kunci untuk menarik penonton global. Skrip disebut sebagai elemen paling penting, didukung tim eksekutif kreatif serta penulis dan eksekutif pengembangan yang membantu merancang cerita berdaya jangkau internasional.
“High-quality content is in demand so we’re going to double our investment to reach an international standard and attract global audiences,” ujarnya.
Studio juga menjaga fleksibilitas soal rilis, apakah lewat jalur bioskop atau streaming, tergantung kebutuhan tiap proyek.
Strategi IP ala Hollywood dari Credeus
Shinzo Matsuhashi, CEO Credeus yang menangani waralaba Kingdom dan Kokuho, memaparkan cara perusahaannya mempertahankan hak kekayaan intelektual. Untuk film Blue Lock yang diangkat dari manga populer, Credeus mendirikan perusahaan pemegang hak bernama CK Works sebagai joint venture bersama penerbit Kodansha.
“It’s rare for production companies to be involved in holding IP rights, but it’s starting to become more standardized and practiced globally,” kata Matsuhashi.
Langkah itu lahir dari kegelisahan atas sistem lama, di mana perusahaan produksi kerap hanya diposisikan sebagai kontraktor yang mengerjakan proyek lalu ditinggalkan tanpa hak apa pun. Dengan memegang hak, Credeus berharap bisa membangun struktur serupa Hollywood.
Tantangan Adaptasi One Piece
Steven Maeda, showrunner adaptasi live-action One Piece untuk Netflix, bercerita soal proses mengubah manga ratusan chapter menjadi delapan episode. Perdebatan soal anggaran berlangsung alot, sampai tim menulis tiga versi naskah.
“We had a lot of discussions and push and pull on what the budget was going to be. So we wrote three versions of the show,” ujar Maeda.
Versi pertama berbiaya sangat mahal, dan Netflix meminta versi yang jauh lebih murah. Maeda menolak kompromi berlebihan karena versi hemat berisiko tidak lagi menjadi One Piece yang dicintai penggemar. Baginya, langkah pertama yang wajib adalah memastikan basis penggemar ikut mendukung.
Bagi industri hiburan Jepang, gelombang investasi Amazon MGM Studios ini menambah persaingan di pasar konten Asia yang makin panas, terutama di segmen adaptasi IP populer yang punya basis penggemar global.