SULAWESI SELATAN — Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika mendongkrak omzet ratusan pelaku UMKM Lombok dan NTB, dengan dampak ekonomi diperkirakan mencapai Rp 5 triliun. Ajang balap yang menarik lebih dari 157 ribu pengunjung itu melibatkan 202 pelaku UMKM kerajinan dan makanan serta lebih dari 600 stan di sekitar sirkuit.
Paragraf pembuka: Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 membawa berkah langsung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Lombok dan Nusa Tenggara Barat. Gelaran balap yang berlangsung selama tiga hari itu tidak hanya menyedot antusiasme penonton, tetapi juga menggerakkan perputaran ekonomi warga di sekitar Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika.
Lonjakan Omzet dari Stan Kuliner hingga Tenun
Dewi Anjani, penyewa stan kuliner di Bazar Mandalika, mengaku penjualannya melonjak tajam selama event berlangsung. Ia menyebut lonjakan kali ini jauh berbeda dibanding hari-hari biasa.
"Apalagi ada event ini, benar-benar meledak. Biasanya cuma beberapa, kali ini (saat event) benar-benar luar biasa," kata Dewi Anjani dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Cerita serupa datang dari Dewi, pemilik usaha kuliner Cocojel Lombok. Produk olahan kelapa miliknya laris diburu pengunjung di tengah teriknya cuaca Sirkuit Mandalika. Ia berharap kesempatan UMKM tampil di ajang internasional seperti ini terus berlanjut.
"Harapannya, event seperti ini terus melibatkan UMKM," ujar Dewi.
Kopi Lokal hingga Tenun Modern Ikut Kebagian Berkah
Di InJourney UMKM Expo, Sakha, pemilik Epoh Roastery, mengaku produk biji kopi olahannya menarik perhatian pengunjung domestik maupun mancanegara. Menurutnya, keikutsertaan dalam expo itu menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan merek sekaligus memperluas jangkauan pasar.
"Harapannya, event ini terus berlanjut karena sangat membantu bisnis kami," kata Sakha.
Sektor kerajinan juga merasakan dampak serupa. Sri Lestari, pemilik merek Riles Lestary yang menjual tenun modern khas Lombok, mencatat penjualan tertinggi sepanjang usahanya selama gelaran MotoGP 2026. Berjualan di selasar InJourney UMKM Expo, ia membukukan penjualan hingga Rp 10 juta, jauh di atas rata-rata hariannya.
"Alhamdulillah, kita penjualan terbesar kemarin. Biasanya Rp 2 juta sampai Rp 4 juta, kemarin bisa sampai Rp 10 juta," kata Sri Lestari.
Warung Sekitar Sirkuit hingga Peran InJourney
Dampak ekonomi juga dirasakan UMKM di sekitar kawasan sirkuit. Ani, pemilik warung seafood di sekitar Sirkuit Mandalika, mengaku jumlah pembeli meningkat signifikan selama event berlangsung. Warungnya ramai dikunjungi pembeli lokal maupun penonton internasional yang datang menyaksikan balapan.
"Dampaknya sangat ramai," kata Ani.
Sebagai holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM melalui InJourney UMKM Expo. Wadah ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan potensi usaha lokal dengan tingginya arus wisatawan, sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung lewat produk dan kreativitas khas daerah.
Potensi Ekonomi Mandalika ke Depan
Dampak ekonomi dari Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 diperkirakan mencapai Rp 5 triliun. Angka itu tidak hanya tercermin dari besarnya perputaran ekonomi selama penyelenggaraan, tetapi juga dari terbukanya peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan dan memperluas pasar.
Aktivitas Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika sendiri ditargetkan terisi hingga 200 hari dalam setahun. Dengan begitu, potensi pengembangan ekosistem pariwisata dan ekonomi lokal di Mandalika dan NTB semakin terbuka lebar.
Penutup: Bagi pelaku UMKM Lombok dan NTB, ajang balap internasional di Mandalika bukan sekadar tontonan, melainkan pintu masuk ke pasar yang lebih luas. Jika target 200 hari aktivitas sirkuit per tahun tercapai, gelaran MotoGP bisa menjadi pemicu tetap bagi pertumbuhan usaha lokal, bukan hanya lonjakan sesaat.