Pencarian

Kepala BPOM Gandeng Ratusan Ribu Apoteker IAI, Targetkan Kemandirian Bahan Baku Obat Nasional

Senin, 12 Oktober 2026 • 05:01:31 WIB
Kepala BPOM Gandeng Ratusan Ribu Apoteker IAI, Targetkan Kemandirian Bahan Baku Obat Nasional
Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. saat menyampaikan keterangan dalam agenda sinergi bersama Ikatan Apoteker Indonesia.

JAKARTA — Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa ratusan ribu apoteker yang bernaung di bawah IAI memegang peranan kunci dalam mentransformasi sektor kefarmasian nasional. Menurutnya, IAI memiliki potensi sumber daya manusia yang luar biasa untuk mendorong perubahan menyeluruh di industri farmasi dalam negeri.

Taruna menilai apoteker bukan sekadar profesi yang menyerahkan obat kepada masyarakat. Mereka, katanya, adalah bagian penting dari kekuatan bangsa, mulai dari penelitian, pengembangan bahan baku, formulasi, produksi, pengendalian mutu, hingga memastikan keamanan obat.

“Apoteker bukan sekadar profesi yang menyerahkan obat kepada masyarakat. Mereka adalah bagian penting dari kekuatan bangsa, mulai dari penelitian, pengembangan bahan baku, formulasi, produksi, pengendalian mutu, hingga memastikan keamanan obat,” tegas Taruna Ikrar.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen pegawai BPOM berasal dari profesi apoteker. Kesamaan latar belakang keilmuan itu disebutnya menjadi modal utama untuk mempercepat terwujudnya kemandirian farmasi nasional.

Ketergantungan Impor Bahan Baku Obat Capai 94 Persen

Indonesia masih menghadapi tantangan serius terkait ketahanan kesehatan. Data yang dipaparkan menunjukkan pada 2025 negara ini masih mengimpor sekitar 94 persen bahan baku obat dari luar negeri.

Kondisi itu membuat industri farmasi dalam negeri sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan gangguan rantai pasok global. BPOM pun gencar mendorong riset bahan baku lokal serta merangsang hilirisasi inovasi farmasi.

Untuk mencapai sasaran tersebut, BPOM menerapkan skema kolaborasi Academia, Business, and Government (ABG). Lembaga ini juga berkomitmen menghadirkan regulasi berbasis bukti ilmiah dan analisis risiko guna memberikan kepastian bagi pelaku industri.

63,75 Persen Apotek Masih Jual Antibiotik Tanpa Resep

Selain memacu riset bahan baku, Taruna menyoroti bahaya nyata resistansi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR). Pengawasan BPOM mendapati sebanyak 63,75 persen apotek masih menyerahkan antibiotik tanpa resep dokter pada 2025.

Angka itu memang turun dari 70,59 persen pada 2024. Meski demikian, BPOM terus menuntut kedisiplinan para apoteker dalam mengawasi peredaran antibiotik.

Taruna meminta IAI terus membina anggotanya agar lebih ketat mengawasi penjualan antibiotik. Pada saat yang sama, ia mendorong para apoteker meningkatkan kompetensi di bidang bioteknologi, produk biologi, serta Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP).

IAI Diharapkan Aktif Beri Masukan Kebijakan Nasional

Menyambut jajaran Pengurus Pusat IAI periode 2026–2030, Taruna berharap IAI makin aktif memberikan masukan konstruktif dalam penyusunan kebijakan nasional. Sinergi ini dinilai akan membentengi kedaulatan kesehatan bangsa agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar obat dunia.

“Kita ingin Indonesia bukan hanya menjadi pasar obat dunia, tetapi juga menjadi bangsa yang mampu meneliti, mengembangkan, memproduksi, dan menjamin mutu obat bagi rakyatnya sendiri,” pungkas Taruna.

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: berita-sulsel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks