SULAWESI SELATAN — Nilai ekspor Indonesia ke Eritrea sepanjang 2025 tercatat US$ 0,69 juta, naik 35,28% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya US$ 0,51 juta. Kertas dan karton menjadi produk andalan dengan nilai US$ 0,58 juta, melonjak dari US$ 118 ribu pada periode sebelumnya. Kenaikan ini menempatkan kertas sebagai penyumbang terbesar dari total 97 kode HS dua digit yang dikirim ke pasar Eritrea.
Data Trademap yang dihimpun Katadata menunjukkan hubungan dagang Indonesia–Eritrea masih didominasi segelintir komoditas. Dari 97 produk yang diekspor, sebanyak 40 produk bernilai di atas satu miliar dolar, sementara 13 produk tercatat rutin dikirim setiap tahun dan menjadi andalan utama.
Rekam jejak sepuluh tahun terakhir memperlihatkan fluktuasi tajam. Nilai ekspor terendah Indonesia ke Eritrea pernah menyentuh US$ 0,13 juta, sedangkan puncak tertinggi mencapai US$ 9,73 juta. Posisi 2025 jauh di bawah titik puncak tersebut.
Kertas dan Karton Kuasai Ekspor ke Eritrea
Produk berkode HS 48 yang mencakup kertas, karton, serta barang dari pulp kertas mencatat nilai ekspor US$ 0,58 juta pada 2025. Angka ini melonjak signifikan dari US$ 118 ribu pada periode sebelumnya.
Lompatan nilai kertas dan karton menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor bilateral. Tanpa kontribusi sektor ini, total ekspor Indonesia ke Eritrea berpotensi stagnan atau bahkan turun.
Mesin dan Peralatan Mekanik di Posisi Kedua
Kelompok barang berkode HS 84, yang mencakup reaktor nuklir, boiler, mesin, dan peralatan mekanik beserta suku cadangnya, membukukan ekspor US$ 0,1 juta. Nilainya jauh di bawah kertas dan karton, tetapi tetap menjadi komponen penting dalam keranjang dagang kedua negara.
Produk Presisi dan Optik Turun Tipis
Ekspor instrumen optik, fotografi, sinematografi, pengukuran, pemeriksaan, presisi, serta peralatan medis atau bedah tercatat US$ 5 ribu. Nilai ini turun dibandingkan periode sebelumnya yang mampu menembus US$ 6 ribu.
Untuk kategori produk ini, Eritrea menjadi satu-satunya tujuan ekspor Indonesia. Negara lain yang masuk lima besar tujuan ekspor serupa adalah Jepang, Yordania, Kazakhstan, Kenya, dan Kiribati.
Zat Albuminoidal dan Senjata Catat Nilai Nol
Produk berkode HS 35, yakni zat albuminoidal yang dikelompokkan bersama pati termodifikasi, lem, dan enzim, tercatat US$ 0 ribu. Meski demikian, ini tetap peningkatan karena pada tahun sebelumnya tidak dilaporkan adanya ekspor ke Eritrea.
Serupa, kelompok senjata dan amunisi juga mencatat nilai US$ 0 ribu. Pada tahun sebelumnya Indonesia tidak mencatat ekspor ke Eritrea untuk komoditas ini. Negara lain yang masuk lima besar tujuan ekspor senjata dan amunisi adalah Ukraina, Uni Emirat Arab, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.
Struktur Ekspor Masih Rapuh
Ketergantungan pada kertas dan karton membuat kinerja ekspor ke Eritrea rentan terhadap perubahan permintaan satu sektor. Sebagian besar produk lain yang dikirim ke Eritrea juga merupakan komoditas yang banyak diekspor ke negara lain, sehingga tidak ada keunggulan spesifik di pasar ini.
Bagi pelaku usaha, Eritrea belum menjadi pasar prioritas. Skala nilainya kecil, di bawah US$ 1 juta per tahun, dan jauh dari pasar tradisional seperti Jepang atau Kenya yang muncul sebagai pembanding dalam data Trademap.
Pemerintah belum memberi sinyal khusus terkait pengembangan pasar Afrika Timur ini. Namun, tren kenaikan 35,28% pada 2025 memberi ruang bagi eksportir kertas dan mesin untuk mencermati peluang jangka menengah.