Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menawarkan wisata alam, edukasi, dan konservasi yang menarik bagi wisatawan. Penilaian itu disampaikan Ni Luh usai berkunjung ke kawasan konservasi tersebut pada Sabtu (19/9). Ia berharap taman nasional ini menjadi contoh pengelolaan pariwisata berkelanjutan berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat.
MAROS — Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti sejumlah keunggulan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang dinilainya memiliki daya tarik wisata kelas dunia. Kunjungan ke kawasan konservasi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, itu berlangsung pada Sabtu (19/9).
Menurut Ni Luh, taman nasional tersebut tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menyimpan kekayaan hayati dan geologi yang jarang ditemukan di tempat lain. Ia pun berharap kawasan ini menjadi contoh pengelolaan pariwisata berkelanjutan.
"Saya berharap Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata yang indah, tetapi juga menjadi contoh konkret pengelolaan pariwisata berkelanjutan berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat," kata Ni Luh dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Bantimurung dan Julukan "The Kingdom of Butterfly"
Salah satu keunggulan yang menonjol adalah kekayaan keanekaragaman kupu-kupu. Kawasan ini membuat Bantimurung dikenal sebagai "The Kingdom of Butterfly".
Taman nasional tersebut menjadi habitat bagi berbagai spesies kupu-kupu, termasuk jenis langka dan endemik. Julukan itu telah melekat lama dan menjadi identitas wisata kawasan Maros.
Bentang Karst Maros-Pangkep yang Diakui UNESCO
Kawasan ini juga memiliki bentang alam karst yang luas dengan panorama tebing-tebing khas. Kekayaan geologi tersebut menjadi bagian penting dari kawasan Maros-Pangkep yang telah mendapat pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
Selain keunikan geologi, taman nasional ini menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna endemik Sulawesi. Di antaranya kera hitam Sulawesi (Macaca maura) dan kuskus beruang.
Air Terjun hingga Gua Alam Bernilai Arkeologi
Daya tarik wisata alam lain yang ditawarkan berupa air terjun serta jaringan gua alam. Gua-gua tersebut memiliki kekayaan stalaktit, stalagmit, dan nilai arkeologi yang memperkuat potensi kawasan.
Kombinasi itu menjadikan Bantimurung-Bulusaraung sebagai destinasi wisata alam, edukasi, dan konservasi sekaligus. Keunggulan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mengembangkan kawasan sebagai destinasi pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Pengelolaannya diharapkan tetap menempatkan pelestarian lingkungan serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian utama. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan bisa dirasakan warga sekitar tanpa mengorbankan kelestarian kawasan.