Puluhan jurnalis yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Selatan menggelar doa bersama untuk keselamatan lima jurnalis dan tiga awak kapal cepat yang hilang di perairan Selat Sunda. Doa bersama disertai penyalaan lilin harapan itu digelar di Istana Balla Lompa, Kabupaten Gowa, Kamis malam, sebagai bentuk dukungan dari Sulsel terhadap rekan-rekan yang masih dalam pencarian tim SAR. Hingga hari ke-10 pencarian, lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut belum ditemukan.
GOWA — Ketua IJTI Sulsel Andi Muhammad Sardi menyatakan doa bersama digelar sebagai bentuk dukungan moral bagi rekan-rekan jurnalis yang masih hilang saat bertugas meliput erupsi Anak Gunung Krakatau. Lima jurnalis tersebut dilaporkan hilang pada 7 September 2026 bersama tiga awak kapal cepat.
"Doa bersama ini disertai menyalakan lilin harapan sebagai bentuk dukungan kami di Sulsel terhadap rekan-rekan kami yang masih hilang dan kini dalam pencarian tim SAR," tutur Andi Muhammad Sardi di Istana Balla Lompa, Kabupaten Gowa.
Meski tim pencarian terus berjibaku hingga hari ke-10, IJTI Sulsel tetap menaruh harapan agar korban dapat ditemukan segera dan keluarga terus dikuatkan.
Lima Jurnalis dan Tiga Kru Kapal yang Masih Dicari
Lima jurnalis yang belum ditemukan masing-masing M Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (Jurnalis Lepas).
Tiga kru kapal yang turut hilang adalah Surahman (Kapten/Nakhoda Kapal), Sukarman (ABK), serta Heriyanto (Pemandu). Mereka bertugas meliput kondisi erupsi Anak Gunung Krakatau ketika kapal cepat yang mereka tumpangi dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda.
Protokol Keselamatan Jadi Sorotan Usai Insiden
Andi Muhammad Sardi kembali mengingatkan pentingnya protokol keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama saat meliput bencana di darat, laut, maupun udara.
"Dari organisasi profesi, saya tidak bosan-bosan untuk mengingatkan teman-teman meliput bencana harus lebih mengutamakan 'safety protocol' atau mengutamakan keselamatan dan keamanan dalam meliput sebuah bencana. Karena, tidak ada berita seharga nyawa," ucap jurnalis televisi SCTV itu menegaskan.
Ia menekankan bahwa dalam kondisi liputan bencana, keamanan dan keselamatan harus dipikirkan secara matang sejak penugasan dari kantor media masing-masing. Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kantor, serta mitigasi medan dan pemetaan situasi juga diperlukan.
Perusahaan Pers Diminta Benahi Manajemen Risiko
Menurut Andi, perusahaan pers mesti berbenah dan melihat tingkat risiko saat menugaskan jurnalis ke wilayah bencana. Individu jurnalisnya pun diminta tetap mengedepankan kehati-hatian, kewaspadaan, serta memprioritaskan keselamatan diri.
"Semoga ini bisa menjadi refleksi buat teman-teman melihat lebih dalam peristiwa itu. Kita mesti belajar dan mengambil kejadian ini sebagai sebuah pengalaman berharga, bagaimana melindungi diri saat meliput bencana. Kami berharap ke depannya sudah tidak ada peristiwa seperti ini lagi," ucapnya.
Kapolresta Gowa Apresiasi Kolaborasi Doa Bersama
Doa bersama tersebut turut dihadiri Kapolresta Gowa Kombes Pol Muhammad Yusuf Usman bersama jajarannya, akademisi UMI Makassar Zakir Sabara, serta sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Koalisi Advokasi Jurnalis (KAJ) Sulsel.
"Doa bersama ini sebagai bentuk keprihatinan kita dan rasa belasungkawa terhadap saudara-saudara kita yang kemarin melaksanakan tugas peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau, dan sampai mengorbankan jiwa dan raganya," tutur kapolres.
Ia berpesan kepada jurnalis agar keselamatan menjadi hal utama ketika melaksanakan tugas. "Perhatikan keselamatan, dan tentu dapat kita melihat potensi bahaya yang dapat mengancam jiwa kapan saja saat menjalankan tugas liputan," katanya sembari mengapresiasi kolaborasi doa bersama yang digelar IJTI Sulsel dan Polresta Gowa.