SULAWESI SELATAN — Setiap orang tua pasti ingin melihat anaknya tumbuh optimal. Namun, tak sedikit yang mengira bahwa stunting hanya soal kurangnya asupan gizi. Padahal, cara orang tua berkomunikasi, merespons anak, dan memberikan stimulasi juga berperan besar.
Kesadaran inilah yang mendorong diadakannya Workshop Kelas Parenting di Kalurahan Giripurwo, Purwosari, Gunungkidul. Kegiatan yang digagas oleh tim PPK Ormawa UKMF MIPA Debate Club (MDC) Universitas Negeri Yogyakarta ini mengundang para kader Posyandu, ibu hamil, hingga anggota PKK. Mereka belajar langsung dari Puskesmas Purwosari tentang pengasuhan yang mendukung pencegahan stunting.
Pola Asuh Positif, Fondasi yang Sering Terlewat
Materi pertama yang mencuri perhatian adalah pola asuh positif. Peserta diajak membangun pengasuhan yang responsif, suportif, dan penuh kasih sayang.
Prinsipnya sederhana: anak bukan hanya butuh makan dan minum, tetapi juga rasa aman dan dihargai. Pelukan, pujian, dan perhatian saat anak bercerita dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Workshop ini menekankan bahwa pola asuh hangat adalah pondasi awal agar tumbuh kembang anak berjalan baik.
Komunikasi Efektif, Kunci Hubungan Orang Tua dan Anak
Bagian lain yang tak kalah penting adalah komunikasi dalam keluarga. Para peserta belajar bahwa komunikasi efektif bukan sekadar berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan sepenuh hati.
Saat anak menangis atau tantrum, cobalah untuk tidak langsung memarahi. Tanyakan apa yang mereka rasakan dengan bahasa yang lembut. Komunikasi yang terbuka membantu orang tua memahami kebutuhan anak, sekaligus menunjang perkembangan sosial dan emosional mereka. Cara ini juga membuat anak merasa nyaman untuk bercerita di kemudian hari.
Pemantauan dan Stimulasi Tumbuh Kembang Sesuai Usia
Peserta juga mendalami cara memantau tumbuh kembang anak, mulai dari aspek fisik, kognitif, bahasa, hingga sosial emosional. Materi ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh para kader dan orang tua.
Tidak hanya teori, mereka diberi tahu pentingnya stimulasi yang sesuai dengan tahapan usia. Misalnya, mengajak bayi berbicara sejak dini, membacakan buku cerita pada balita, atau memberi mainan yang melatih motorik anak.
Stimulasi ini berhubungan erat dengan pencegahan stunting. Anak yang jarang diajak berinteraksi bisa mengalami keterlambatan bicara meskipun gizinya cukup. Jadi, peran orang tua sebagai teman bermain dan pendamping sangat dibutuhkan.
Mengapa Ibu Hamil dan Kader Perlu Terlibat?
Hal menarik dari workshop ini adalah keterlibatan beragam peserta, termasuk ibu hamil dan kader Bina Keluarga. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan anak sejak dalam kandungan.
Kader Posyandu dan kader KB pun dibekali cara menyampaikan pesan pola asuh positif kepada ibu lain di lingkungannya. Dengan begitu, manfaat workshop ini dapat menjangkau lebih banyak keluarga di Giripurwo.
Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya. Namun, mengikuti kegiatan seperti di Gunungkidul ini bisa menjadi pengingat bahwa pencegahan stunting memerlukan usaha bersama dari sisi gizi dan pengasuhan. Tidak perlu menunggu sempurna, Ibu bisa mulai dari hal kecil di rumah: mendengar, memeluk, dan bermain bersama si kecil.