Pencarian

1.000 Hari Pertama Kehidupan: Panduan Parenting Anti-Mitos untuk Ibu Muda di Era Digital

Sabtu, 05 September 2026 • 12:53:01 WIB
1.000 Hari Pertama Kehidupan: Panduan Parenting Anti-Mitos untuk Ibu Muda di Era Digital
Warga mengikuti sesi diskusi interaktif dalam acara parenting "Next Gen(re)parenting" di Padma Hotel Semarang, Sabtu (5/9/2026).

SULAWESI SELATAN — Menjadi ibu muda di tengah gempuran informasi digital memang terasa seperti berjalan di labirin. Satu hari mendengar anjuran A, keesokan harinya muncul informasi B yang bertentangan. Belum lagi tekanan sosial yang membuat kita kerap membandingkan tumbuh kembang si Kecil dengan anak tetangga.

Untuk menjawab kebingungan ini, Morinaga baru saja menggelar acara bertajuk "Next Gen(re)parenting, Masa Depan Dimulai Sekarang" di Padma Hotel Semarang, Sabtu (5/9/2026). Acara ini menghadirkan para pakar kesehatan dan menghadirkan ruang diskusi bagi orang tua agar lebih siap menghadapi fase krusial 1.000 HPK.

Bukan Sekadar Soal Nutrisi, tapi Juga Kesiapan Mental Bunda

Menjadi orang tua bukan hanya tentang menyiapkan makanan bergizi. Lebih dari itu, ini adalah proses adaptasi besar, terutama bagi ibu yang juga aktif bekerja. Momfluencer Patricia Gouw berbagi pengalamannya bahwa setelah memiliki anak, prioritas hidupnya berubah total. "Dulu saya sangat aktif, sering keluar kota setiap minggu, menjadi presenter dan menghadiri berbagai kegiatan. Setelah menjadi ibu, tantangannya adalah bagaimana tetap bisa bekerja, tetapi kebutuhan dan nutrisi anak juga harus menjadi perhatian," ungkapnya.

Pengakuan Patricia ini sangat relate dengan kondisi banyak ibu muda. Dukungan dari keluarga dan pasangan menjadi kunci utama agar Bunda tidak merasa berjalan sendirian. Kesiapan mental untuk beradaptasi dengan peran baru ini adalah langkah pertama yang tidak kalah penting dari menyiapkan MPASI.

Kenali Tahap Tumbuh Kembang, Jangan Asal Bandingkan

Salah satu kekhawatiran terbesar orang tua adalah ketika si Kecil terlihat "terlambat" dibandingkan anak seusianya. Dokter Anak, dr. Hendra Wardhana, Sp.A, mengingatkan bahwa setiap anak memiliki ritme tumbuh kembang yang berbeda. "Kalau pada usia tertentu perkembangan anak belum sesuai dengan yang diharapkan, perlu dilakukan evaluasi. Orang tua harus peka terhadap perkembangan anak dan tidak hanya melihat dari perbandingan dengan anak lainnya," jelasnya.

Yang perlu Bunda pahami, tanda bahaya (red flag) bukanlah tentang siapa yang lebih dulu bisa bicara atau berjalan. Evaluasi medis diperlukan jika ada keterlambatan signifikan yang tidak sesuai tahapan usianya. Alih-alih cemas membandingkan, fokuslah pada stimulasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan unik si Kecil.

Mengelola Ekspektasi Sosial dan Tekanan Lingkungan

Psikolog Indah Sundari Jayanti, S.Psi., M.Psi., menyoroti aspek psikologis yang sering kali luput dari perhatian. Banyak orang tua yang tanpa sadar terbebani ekspektasi sosial, seperti tuntutan untuk langsung "hebat" dalam mengasuh atau memiliki anak yang sesuai standar orang lain. "Boleh saja orang tua memiliki ekspektasi terhadap perkembangan anak, tetapi ekspektasi tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing anak. Jangan menjadikan perkembangan anak lain sebagai ukuran mutlak karena setiap anak memiliki proses yang berbeda," tuturnya.

Kompetisi dalam pengasuhan, baik disadari maupun tidak, hanya akan menguras energi Bunda. Penerimaan dan perhatian yang tulus terhadap kondisi anak justru menjadi fondasi terbaik agar mereka tumbuh sesuai potensinya masing-masing.

Membedah Fakta vs Mitos di Sesi "Fact or Feeling"

Acara ELN 2026 juga mengadakan sesi interaktif untuk mengajak orang tua berpikir kritis. Topik-topik seperti perkembangan otak (brain development), kesehatan saluran cerna (gut health), hingga pencegahan risiko alergi dibahas dengan membandingkan fakta medis dan mitos yang beredar di masyarakat. Tujuannya jelas, membekali orang tua dengan informasi yang relevan dan berbasis pengetahuan, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Melalui konsep Next Gen(re)parenting, Morinaga mengajak orang tua untuk lebih terbuka dan kritis dalam menyikapi informasi. Dengan memahami kebutuhan kesehatan dan emosional anak sejak dini, Bunda sudah melakukan investasi terbaik untuk masa depannya. Ingat, tidak ada orang tua yang sempurna, yang ada adalah orang tua yang mau terus belajar dan hadir sepenuh hati untuk buah hatinya.

Follow topsulsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jatengpos.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks