MAKASSAR — Perjalanan akademik Syamsul Hidayat mencapai puncaknya. Pria kelahiran Makassar tahun 1993 itu dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Pendidikan Agama Islam di Unismuh Makassar, Senin (31/8). Ia menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 2 tahun 11 bulan 30 hari dengan IPK 3,98 dan nilai rata-rata disertasi 94,10.
Rektor Unismuh Makassar, Dr Ir H Abd Rakhim Nanda, MT, IPU, selaku ketua sidang menyampaikan keputusan kelulusan. Capaian publikasi ilmiah di jurnal bereputasi turut melengkapi syarat kelulusannya.
Model "Neo-Pesantren" Temuan Baru Penelitian
Disertasi Syamsul berjudul "Peran Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan". Penelitian ini menemukan pergeseran pola pengelolaan pesantren dari ketergantungan pada figur menuju tata kelola berbasis sistem.
Ia menyebut perubahan tersebut sebagai "neo-pesantren Muhammadiyah". Model itu ditandai kepemimpinan kolektif-kolegial, transparansi pengelolaan, pengembangan sumber daya manusia, dan sistem penjaminan mutu.
Peran LP2M dalam Peningkatan Mutu Pesantren
Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) tidak sekadar menjalankan fungsi regulasi. Pembinaan dilakukan melalui kunjungan lapangan, supervisi akademik, lokakarya, coaching, dan pendampingan daring. Monitoring dan evaluasi berjalan minimal dua kali setahun dengan cakupan kepemimpinan, kurikulum, SDM, keuangan, hingga pembinaan karakter santri.
42 Persen Guru Belum Bersertifikasi Pedagogik
Penelitian ini memotret kondisi peta guru pesantren di Sulsel. Dari hasil pemetaan Database PontrenMu, sekitar 42 persen guru pesantren belum memiliki sertifikasi kompetensi pedagogik. Temuan ini dijadikan dasar penyusunan program pelatihan kompetensi guru yang lebih terarah.
Kurikulum Pertemukan Literatur Islam dan Sains Modern
Pada aspek kurikulum, LP2M mengembangkan model yang mempertemukan diniyah, sains, dan Kemuhammadiyahan. Santri tetap diarahkan pada penguasaan literatur Islam klasik dan bahasa Arab, tetapi juga dibekali keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Syamsul menegaskan standardisasi tidak menghilangkan kekhasan tiap pesantren. Setiap lembaga justru dikembangkan berdasarkan potensi masing-masing. Pemetaannya menunjukkan Darul Arqam Cece dan Balassuka diarahkan menjadi pusat pesantren agribisnis, sementara Darul Fallah Bissoloro menjadi model Trensains berbasis Trenqaun.
Jejak Kaderisasi dari IPM ke Dunia Akademik
Riset tentang pesantren ini berkelindan dengan perjalanan organisasi Syamsul. Ia pernah menjabat Sekretaris Umum PC IPM Pao Tombolo 2009-2011, Ketua Umum PD IPM Gowa 2012-2014, dan Ketua Umum PW IPM Sulsel 2016-2018. Ia juga aktif sebagai Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel bidang kaderisasi.
Promotor disertasi, Prof Dr H Bahaking Rama, MS, menegaskan posisi strategis pesantren bagi keberlanjutan organisasi. "Pesantren ini adalah masa depan Muhammadiyah," ujarnya.
Ia berpesan agar Syamsul tidak berhenti setelah meraih gelar doktor. Ilmu yang diperoleh harus terus diamalkan dalam pengembangan pendidikan pesantren di Sulawesi Selatan.