SULAWESI SELATAN — Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga yang agresif bertujuan untuk melakukan repricing atau penetapan harga baru pada instrumen SRBI dan SBN. Strategi ini dinilai berhasil membalikkan tren outflow yang terjadi pada kuartal I-2026.
Angka Inflow yang Membalikkan Tren Outflow Kuartal I
Destry memaparkan data lengkap pergerakan modal asing di hadapan para investor di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Rabu (15/7). Berikut rincian arus masuk yang tercatat:
- SBN: Inflow Rp 33 triliun pada Juni hingga awal Juli, berhasil menutup posisi negatif di kuartal I sehingga total inflow bersih menjadi Rp 17,7 triliun.
- SRBI: Inflow Rp 72 triliun pada periode yang sama, dengan total akumulasi inflow sejak awal tahun mencapai Rp 174 triliun.
Alasan di Balik Kenaikan Suku Bunga 100 bps
Menurut Destry, keputusan menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin bukanlah langkah yang diambil tanpa perhitungan. "Pada saat terjadi outflow yang besar, kita perlu meng-anker persepsi itu. Kami tunjukkan bahwa ini adalah front loading yang kami lakukan," jelasnya.
BI juga mengantisipasi tekanan inflasi ke depan yang dipicu oleh volatile food dan faktor cuaca. Selain itu, langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan harga aset keuangan tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.
Pasar Saham Masih Tertekan, Risk Premium Meningkat
Meski arus asing mulai kembali ke pasar surat utang, Destry mengakui bahwa pasar saham masih mengalami tekanan. Arus modal keluar (outflow) di bursa efek masih berlanjut hingga saat ini.
Ia menjelaskan, tingginya ketidakpastian global membuat persepsi investor terhadap ekonomi domestik memburuk. Akibatnya, risk premium Indonesia naik dan investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk menanamkan modal di dalam negeri.
"Jadi dalam kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi, yang dibutuhkan adalah kebijakan yang tepat dan temporer. Inilah yang kami lakukan," pungkas Destry.