SULAWESI SELATAN — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 63 poin dari posisi penutupan akhir pekan lalu di Rp17.922 per dolar AS. Pergerakan pagi ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan apresiasi terbesar, mengungguli won Korea dan baht Thailand.
Sentimen Eksternal Jadi Katalis Utama
Pelaku pasar merespons positif rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi. Data non-farm payrolls (NFP) Jumat malam menunjukkan penambahan 175.000 pekerjaan, di bawah perkiraan analis yang sebesar 240.000.
Angka tersebut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed lebih lanjut. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,45 persen, mendorong investor kembali melirik aset berisiko di negara berkembang termasuk Indonesia.
Dolar Tertekan, Pasar Menunggu Sinyal BI
Indeks dolar AS (DXY) pagi ini melemah 0,2 persen ke posisi 104,8, level terendah dalam dua pekan. Pelemahan greenback ini menjadi angin segar bagi rupiah yang sepanjang pekan lalu tertekan oleh sentimen risk-off global.
Di dalam negeri, pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Sejumlah ekonom memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Apa yang Perlu Dicermati Investor Hari Ini
Level psikologis Rp17.800 per dolar AS menjadi resistance terdekat yang harus ditembus rupiah untuk memperpanjang penguatan. Jika bertahan di atas Rp17.850, potensi koreksi teknikal masih terbuka mengingat volume perdagangan pagi ini tergolong tipis.
Investor obligasi dan reksa dana pasar uang patut mencermati pergerakan ini. Penguatan rupiah yang berkelanjutan bisa menjadi sinyal positif bagi aliran modal asing masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN), yang dalam sepekan terakhir mencatatkan net sell Rp 1,2 triliun.
Untuk perdagangan siang nanti, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi konsumen AS yang akan dirilis Rabu depan. Angka tersebut akan menjadi panduan baru bagi ekspektasi suku bunga global.