BULUKUMBA — Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba, dr. Amrullah, menyatakan penurunan kualitas udara terjadi hingga tingkat yang sangat tidak sehat. Asap diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Bulukumba sendiri, sebagian lagi kiriman dari Kalimantan yang terbawa angin.
Data BMKG menunjukkan indeks kualitas udara Bulukumba menyentuh angka 154. Angka itu masuk kategori tidak sehat dan tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi berdampak pada kesehatan warga.
dr. Amrullah memaparkan ambang batas yang dipakai untuk menilai kondisi udara. "Kalau udara bersih itu nol sampai 50, kemudian 50 sampai 100 itu sedang. Kalau sudah di atas 100, itu tidak sehat," ujarnya.
Dengan indeks 154, kualitas udara Bulukumba berada jauh di atas batas aman. Paparan asap berkepanjangan disebut memperbesar risiko gangguan pernapasan, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Dinas Kesehatan Bulukumba mencatat lonjakan kasus ISPA hingga tiga kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya. Anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Kenaikan itu terjadi di tengah kondisi udara yang belum menunjukkan perbaikan. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama asap masih menyelimuti wilayah.
Masyarakat diimbau mengurangi kegiatan di luar rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, warga disarankan memakai masker untuk mengurangi paparan asap.
Imbauan itu menyasar seluruh warga Bulukumba, dengan penekanan pada kelompok rentan yang paling berisiko mengalami gangguan saluran pernapasan. Dinas Kesehatan belum menyebut berapa lama kondisi udara tidak sehat ini diperkirakan berlangsung.
Kualitas udara dilaporkan menurun dalam beberapa hari terakhir. Selain dari karhutla lokal, asap kiriman dari Kalimantan yang terbawa angin turut memperburuk kondisi di Bulukumba.