BANDUNG — Taruna Ikrar menyampaikan pesan strategis itu di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas guru besar, dosen, dan mahasiswa Unpar. Ia menilai era keterbukaan informasi telah mengubah wajah pendidikan tinggi secara fundamental. Kehadiran kecerdasan buatan membuka akses pengetahuan yang sebelumnya menuntut waktu, biaya, dan sumber daya besar.
"Hari ini tidak ada lagi alasan bagi dosen maupun mahasiswa untuk berhenti meng-upgrade diri. Kita hidup di era keterbukaan informasi. Dengan kecerdasan buatan, dunia seolah berada dalam genggaman. Persoalannya bukan lagi sulitnya mendapatkan ilmu, melainkan seberapa besar kemauan kita untuk belajar, berubah, dan meningkatkan kemampuan," tegas Taruna.
Menurut Taruna, perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Kampus mesti menjadi pusat lahirnya inovator, pemimpin, dan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat internasional. Salah satu pendekatan yang ditawarkannya adalah Neuroscience Leadership.
Pendekatan kepemimpinan itu memanfaatkan pemahaman tentang cara kerja otak dalam proses berpikir, belajar, mengelola emosi, serta mengambil keputusan. Dengan pemahaman neurosains yang dipadukan asesmen pendidikan, mahasiswa dapat lebih terarah mengenali potensi, minat, dan bakatnya. Dosen pun bisa mengembangkan metode pembelajaran yang lebih adaptif, kreatif, dan efektif.
"Setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tantangan pendidikan adalah bagaimana membantu seseorang mengenali kekuatannya, menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan bakatnya, kemudian mengembangkannya menjadi kompetensi unggul yang mampu bersaing secara global," jelasnya.
Taruna menambahkan, pemanfaatan kecerdasan buatan harus berjalan seiring penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, etika, serta karakter kepemimpinan. Dengan begitu, transformasi pendidikan tinggi mampu melahirkan lulusan yang menguasai teknologi sekaligus menciptakan solusi bagi persoalan masyarakat.
Ia berharap Unpar terus memperkuat kualitas riset, inovasi, kolaborasi internasional, dan pengembangan sumber daya manusia. Langkah konkret itu dinilainya akan mempercepat terwujudnya cita-cita Unpar sebagai World Class University.
"Universitas kelas dunia bukan hanya ditentukan oleh gedung megah atau banyaknya gelar akademik, tetapi oleh kualitas pemikiran, kekuatan inovasi, hasil penelitian, dan kontribusi nyata yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat dunia," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Taruna memperkenalkan konsep kolaborasi ABG (Academia, Business, Government) sebagai fondasi pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan. Akademisi memiliki kekuatan dalam penelitian dan pengembangan ilmu, dunia usaha berperan dalam hilirisasi inovasi, sedangkan pemerintah menciptakan kebijakan serta ekosistem yang mendukung kemajuan bersama.
Sinergi ketiga unsur itu disebutnya menjadi kunci vital untuk memperkuat daya saing Indonesia sekaligus mendukung program prioritas nasional. Sebagai contoh nyata, BPOM memberikan dukungan penuh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi fokus utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Taruna menjelaskan, BPOM terus memperkuat sinergi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memastikan makanan yang tersaji memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan. Kerja sama ini mencakup penguatan pengawasan, pengujian pangan, pembinaan keamanan pangan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
"Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi memastikan makanan tersebut aman, bermutu, dan bergizi. Prinsip BPOM sangat jelas: bukan pangan jika tidak aman," tegas Taruna.
Pemenuhan gizi, lanjutnya, harus mendapat dukungan sistem keamanan pangan yang kuat, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi. Melalui pendekatan ABG, Taruna mengajak perguruan tinggi berkontribusi aktif melalui penelitian keamanan pangan, inovasi pengawasan, edukasi gizi, dan pengembangan sistem pengendalian risiko berbasis sains.
Sinergi itu dinilainya akan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.