MAKASSAR — Sebanyak 62 sarjana STAI Al Bayan Makassar resmi diwisuda pada Rabu (26/8/2026). Mereka berasal dari tiga program studi: Tadris Matematika, Ekonomi Syariah, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Prosesi digelar di Swiss Belinn, Makassar, dan dipimpin langsung oleh Ketua STAI Al Bayan, Dr. Abdul Kadir Mahmud, M.A., bersama jajaran Dewan Senat serta Ketua Yayasan Al Bayan, Muh Arfah, M.M.
Berbeda dari wisuda pada umumnya, para alumni STAI Al Bayan tidak sekadar menerima ijazah. Dalam prosesi yang sama, mereka langsung menerima surat keputusan penugasan kerja. Penempatan tersebut tidak hanya ke berbagai pondok pesantren, tetapi juga untuk melanjutkan studi, termasuk ke Australia.
Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, L.C., menyoroti tantangan yang dihadapi generasi Z saat ini. Menurutnya, banyak anak muda merasa gelisah dan tidak menikmati pekerjaannya.
“Dengan ketaqwaan dan kedekatan yang erat kepada Allah SWT, para alumni akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menjalani peran dan pengabdian di tengah masyarakat,” tegas Naspi Arsyad dalam sambutannya.
Rangkaian wisuda juga diisi orasi ilmiah bertajuk “Sarjana dan Misi Peradaban” oleh Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Litbang DPP Hidayatullah, Muh. Saddam, M.Ak. Ia memaparkan peran strategis lulusan perguruan tinggi dalam membangun peradaban Islam di tengah era yang kian kompleks.
Acara ini turut dihadiri Sekretaris Kopertais Wilayah VIII, Dr. K.H. Nur Taufiq Sanusi Baco, M.Ag., serta Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Dr. Muh. Saleh, M.I.Kom. Sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat juga hadir dalam agenda monumental tersebut.
Pesan tegas disampaikan Abdul Kadir Mahmud pada malam ramah tamah sehari sebelum wisuda. Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak tinggi hati ketika mengenakan toga.
“Toga bukan mahkota yang perlu dibanggakan, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan,” ujar Abdul Kadir.
Ia menegaskan bahwa para alumni kini tidak lagi berstatus mahasiswa pengabdian, melainkan langsung mendapatkan lokasi penugasan. Mereka dituntut bekerja nyata di tengah masyarakat dengan bekal ilmu, akhlak, dan karya.
Di sela acara, mewakili Kopertais Wilayah VIII, Nur Taufik mendorong STAI Al Bayan untuk segera meningkatkan status dari sekolah tinggi menjadi institut. Syaratnya, institusi harus memiliki minimal empat program studi.
“STAI Al Bayan tinggal menambah satu prodi lagi yang menjadi kebutuhan Hidayatullah,” harapnya.
Abdul Kadir Mahmud sebelumnya juga mengutarakan rasa bangganya. Institusinya dinilai konsisten mencetak lulusan di tengah tantangan yang dialami banyak perguruan tinggi keagamaan Islam swasta.