Sejarah Bahari Sulawesi Selatan Terkikis Zaman, Alihwahana Jadi Jalan Makassar Perkenalkan Warisan Pinisi ke Generasi Muda

Penulis: Endra Sanjaya  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:41:01 WIB
Kapal Pinisi bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari warisan maritim yang terus dilestarikan.

MAKASSAR — Letak strategis di pesisir menjadikan Makassar salah satu pusat perdagangan dan pelayaran penting di Nusantara sejak dahulu. Laut bukan sekadar jalur transportasi, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan. Jejak kejayaan ini terekam nyata pada pelabuhan bersejarah, Benteng Rotterdam, tradisi pelayaran suku Bugis-Makassar, serta keanggunan kapal Pinisi.

Namun, di tengah pesatnya perkembangan kota dan teknologi, warisan budaya maritim tersebut menghadapi tantangan besar dalam pelestarian dan pengenalannya kepada generasi muda. Masalah utamanya adalah semakin jauhnya generasi muda dari akar sejarah daerahnya sendiri.

Pengetahuan Maritim Hanya Sebatas Buku Sekolah

Kehidupan masyarakat perkotaan saat ini lebih banyak terserap oleh teknologi, media sosial, dan budaya populer. Pengetahuan maritim sering kali hanya diperoleh sebatas dari buku pelajaran sekolah, sementara situs bersejarah dianggap sebagai bangunan tua tanpa dipahami makna di baliknya.

Metode penyampaian sejarah pun masih cenderung konvensional melalui teks atau papan informasi kaku yang kurang menarik bagi generasi modern yang terbiasa dengan media visual dan interaktif.

Kapal Pinisi Menjadi Pusat Narasi Kearifan Lokal

Tantangan ini dapat dijawab melalui konsep alihwahana, yaitu proses mengadaptasi warisan budaya dan pengetahuan sejarah ke dalam bentuk media baru yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Sejarah tidak harus selalu disampaikan lewat buku tebal atau kunjungan fisik semata, tetapi dapat ditransformasikan menjadi film dokumenter, animasi, komik digital, podcast, gim edukatif, hingga konten media sosial.

Sebagai contoh, kapal Pinisi dapat dijadikan pusat narasi tentang kearifan lokal dan kehidupan para pelaut. Proses pembuatan kapal, keterampilan pengrajin, hingga filosofi hubungan manusia dengan laut dapat divisualisasikan melalui karya audiovisual berjudul "Kembali ke Laut".

Cerita ini dapat menggunakan sudut pandang seorang pemuda Makassar yang awalnya acuh terhadap sejarah daerahnya. Dalam perjalanannya mengunjungi Benteng Rotterdam dan berinteraksi dengan tokoh budaya serta pengrajin pesisir, ia menyadari betapa bernilainya warisan bahari tersebut. Konflik keterasingan budaya ini kemudian mendorong tokoh utama mengajak rekan-rekannya membuat media digital guna memperkenalkan sejarah Makassar secara relevan dan modern.

Kolaborasi Lintas Sektor dan Peran Media Sosial

Solusi berbasis alihwahana ini memerlukan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata. Sekolah dapat memanfaatkan film atau animasi sebagai bahan ajar, sementara situs bersejarah dapat dilengkapi teknologi seperti kode QR yang mengarahkan pengunjung ke cerita interaktif.

Media sosial juga menjadi sarana strategis untuk menyebarkan video pendek berdurasi singkat namun edukatif. Lewat pendekatan ini, generasi muda tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga dilibatkan aktif sebagai kreator konten, videografer, maupun pemandu wisata budaya.

Pelestarian budaya maritim bukan sekadar merawat peninggalan fisik, melainkan menghidupkan kembali maknanya sesuai perkembangan zaman. Alihwahana memberikan ruang kreatif agar dari situs bersejarah dapat lahir film, dari tradisi pelayaran lahir cerita digital, dan dari kisah para pelaut lahir inspirasi baru.

Sinergi antara teknologi, pendidikan, dan kreativitas akan memastikan warisan bahari Sulawesi Selatan tetap hidup, menjadikan laut yang dahulu menghubungkan Makassar dengan Nusantara kini kembali menjadi jalan untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia ke panggung dunia.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: matakita.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top