Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar resmi menjalin kerja sama dengan Hartford International University for Religion and Peace dalam kajian dan penelitian perdamaian. Kolaborasi ini mencakup pertukaran akademisi, mobilitas mahasiswa, hingga seminar bersama. Rektor Unhas menegaskan nilai kearifan lokal Sulawesi Selatan seperti Sipakatau dan Sipakalebbi akan menjadi fondasi filosofis dalam riset lintas negara tersebut.
MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menggandeng Hartford International University for Religion and Peace untuk memperluas riset dan pembelajaran di bidang kajian perdamaian. Kerja sama ini tidak hanya sebatas penandatanganan nota kesepahaman, tetapi langsung diterjemahkan ke dalam sejumlah program konkret.
Ruang lingkup kolaborasi meliputi penelitian pada bidang kepentingan bersama, pertukaran materi akademik, pertukaran akademisi, mobilitas mahasiswa, serta penyelenggaraan seminar, lokakarya, dan kegiatan ilmiah lainnya. Kesepakatan ini diumumkan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (16/2).
Rektor Unhas, Prof Dr Jamaluddin Jompa, menekankan pentingnya kolaborasi akademik dalam mempertemukan beragam perspektif untuk merespons tantangan global. Menurutnya, riset perdamaian tidak selalu harus berangkat dari teori-teori Barat, tetapi bisa digali dari kearifan lokal yang hidup di masyarakat.
“Di Sulawesi Selatan, kami memiliki nilai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi yang mengajarkan kami untuk saling menghormati, saling mengingatkan, serta menjunjung tinggi martabat manusia,” ujar Prof Jamaluddin Jompa.
Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk membangun hubungan di tengah keberagaman serta memperluas ruang kolaborasi lintas negara. Unhas melihat posisi strategis ini sebagai peluang untuk memperkenalkan perspektif lokal Indonesia ke panggung akademik global.
Presiden Hartford International University for Religion and Peace, Sheryl L. Turner PhD, menyambut kolaborasi ini sebagai ruang untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan pengalaman akademik antara kedua institusi.
“Kerja sama ini membuka peluang bagi kita untuk saling bertukar gagasan, mengembangkan penelitian, serta memperluas pembelajaran bersama. Kolaborasi seperti ini juga memungkinkan kita memahami berbagai persoalan dari perspektif dan pengalaman yang berbeda,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keberagaman Indonesia sebagai ruang kajian yang penting dalam pengembangan penelitian. Keragaman sosial, budaya, dan agama di Indonesia menghadirkan konteks yang relevan untuk mengkaji interaksi antarkelompok, dialog, serta berbagai pendekatan dalam pembangunan perdamaian.
Kerja sama ini diharapkan memperkuat hubungan kedua institusi, khususnya dalam pengembangan riset dan pembelajaran. Bagi Unhas, kemitraan ini menjadi pintu masuk untuk meningkatkan reputasi internasional dan membuka jaringan riset yang lebih luas bagi para akademisi serta mahasiswa.
Dengan adanya mobilitas mahasiswa dan pertukaran akademisi, civitas academica Unhas memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam diskursus global mengenai resolusi konflik dan pembangunan perdamaian. Sebaliknya, peneliti dari Hartford dapat mempelajari secara langsung praktik-praktik kerukunan yang sudah mengakar di masyarakat Sulawesi Selatan.