PALOPO — Dua institusi pendidikan dengan karakteristik berbeda, SDN 45 Padang Alipan dan MAN Palopo, dipilih sebagai lokasi uji lapangan Smart-AR PAI. Uji coba ini menandai tahap krusial sebelum media pembelajaran buatan akademisi UNCP tersebut dipublikasikan secara luas.
Dalam simulasi tersebut, peserta didik menjadi pengguna utama aplikasi, sementara guru berperan memberikan penilaian dari sisi pendidik. Masukan dari kedua kelompok ini akan menjadi bahan evaluasi utama bagi tim pengembang.
Smart-AR PAI dirancang sebagai modul ajar hibrida. Bahan ajar cetak tetap dipertahankan, namun dipadukan dengan aplikasi seluler yang memanfaatkan teknologi AR dan Deep Learning.
Dengan memindai halaman modul menggunakan kamera smartphone, materi ibadah dan praktik keagamaan tampil dalam bentuk visual tiga dimensi yang interaktif. Peserta didik tidak lagi hanya membaca teks, tetapi bisa melihat simulasi gerakan dan tata cara secara lebih konkret.
Pemilihan SDN 45 Padang Alipan dan MAN Palopo bukan tanpa alasan. Tim pengembang ingin melihat bagaimana aplikasi ini bekerja pada dua lingkungan pendidikan yang berbeda dari segi usia pengguna dan tingkat pemahaman teknologi.
Selain itu, pengujian User Interface (UI) dan User Experience (UX) menjadi sorotan utama. Tim ingin memastikan aplikasi tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga mudah dipahami, menarik secara visual, dan nyaman digunakan oleh anak-anak maupun remaja.
Sebelum sampai ke tangan guru dan siswa, Smart-AR PAI telah melewati serangkaian pengujian ketat. Prosesnya dimulai dari pengembangan aplikasi, rendering ke platform Android, hingga pengujian black box dan white box untuk memastikan tidak ada celah kesalahan sistem.
Produk ini juga telah melewati validasi dari sejumlah ahli, mencakup ahli multimedia, teknologi pembelajaran, Pendidikan Agama Islam, hingga ahli bahasa. Tahap pengujian plagiasi juga dilakukan untuk memastikan orisinalitas materi.
Keunggulan utama Smart-AR PAI terletak pada sistem Deep Learning yang tertanam di dalamnya. Aplikasi ini tidak hanya menampilkan visualisasi, tetapi juga menganalisis respons peserta didik saat berinteraksi dengan materi.
Dengan begitu, aplikasi dapat menyesuaikan tingkat kesulitan atau mengulang materi yang dianggap belum dipahami. Pendekatan ini diharapkan mampu menggantikan metode konvensional yang selama ini dinilai satu arah dan kurang interaktif.
Tim pengembang menyatakan bahwa masukan dari uji lapangan di Palopo ini akan menjadi dasar penyempurnaan aplikasi sebelum dirilis untuk kalangan yang lebih luas.