Sumur Minyak Pertamina di Papua Barat Tembus 369 BOPD, Lampaui Target 30 Persen

Penulis: Chandra Kusuma  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:12:31 WIB
Sumur minyak Pertamina di Papua Barat mencatat produksi 369 barel per hari, melampaui target sebesar 30 persen.

SULAWESI SELATAN — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengapresiasi kinerja anak usaha Pertamina tersebut. Keberhasilan ini bukan sekadar soal angka produksi, tetapi juga efisiensi operasional yang patut dicontoh di tengah tantangan geologis yang makin kompleks.

Mengapa Sumur Ini Spesial?

Sumur SLW-F003 awalnya direncanakan sebagai lokasi pengeboran SLW-F3X. Proses tajak atau awal pengeboran dimulai pada 24 Juni 2026, dan rangkaian uji produksi rampung pada 10 Agustus 2026. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan bahwa hasil uji produksi sementara menunjukkan angka yang menggembirakan.

"Sumur SLW-F003 sebelumnya direncanakan sebagai lokasi pengeboran SLW-F3X. Tajak sumur dilakukan pada 24 Juni 2026. Setelah menyelesaikan rangkaian pengeboran dan penyelesaian sumur, uji produksi dilakukan pada 10 Agustus 2026," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (10/8).

Yang menarik, sumur ini memakai teknologi Electric Submersible Pump (ESP) sebagai artificial lift untuk mengangkat minyak dari lapisan Kais. Teknologi ini biasanya digunakan ketika tekanan alami reservoir sudah tidak cukup kuat untuk mendorong minyak ke permukaan.

Rincian Operasional dan Target Nasional

Pengeboran dilakukan secara directional dengan konfigurasi J-type menggunakan rig PDSI #11.2/N80B-M. Kedalaman akhir mencapai 2.080 meter measured depth (mMD) atau setara 2.061 meter true vertical depth (mTVD). Seluruh proses dari pengeboran hingga uji produksi berjalan tanpa insiden, mencerminkan penerapan standar HSSE yang ketat.

Keberhasilan ini memperkuat kontribusi kegiatan pengeboran sumur pengembangan dalam menjaga dan meningkatkan produksi minyak nasional. Di tengah target produksi siap jual (lifting) yang ditetapkan pemerintah, setiap temuan baru—meski dari sumur berukuran kecil—berperan penting menahan laju penurunan produksi alamiah lapangan tua.

Bagi masyarakat Papua Barat, aktivitas hulu migas ini juga menjadi penggerak ekonomi lokal. Mulai dari serapan tenaga kerja, jasa penunjang, hingga kontribusi penerimaan negara. Kehadiran investasi pengeboran di wilayah timur Indonesia menunjukkan bahwa potensi migas tidak hanya terpusat di Sumatera atau Kalimantan.

SKK Migas berharap capaian serupa bisa direplikasi di sumur-sumur pengembangan lain. Dengan biaya pengeboran yang lebih murah dibanding eksplorasi baru, sumur pengembangan seperti SLW-F003 menawarkan kepastian hasil yang lebih tinggi—sebuah strategi penting untuk menjaga stabilitas produksi nasional dalam jangka pendek.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top