SULAWESI SELATAN — Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam keterangan resmi, Minggu (9/8/2026). Ia menilai Indonesia memiliki modal kuat berupa sumber energi domestik, potensi energi surya, serta konektivitas digital yang terus membaik melalui jaringan serat optik dan satelit. Kombinasi itu disebutnya sebagai "golden moment" yang tidak akan berlangsung lama.
"Indonesia memiliki keunggulan berupa sumber energi domestik, potensi energi surya, serta konektivitas digital yang terus berkembang sehingga menjadi modal penting dalam mempercepat transformasi digital nasional," ujar Airlangga.
Pemerintah meyakini pengembangan data center, AI, dan industri semikonduktor mampu mendorong produktivitas serta daya saing nasional. Ketersediaan lahan, air, dan energi menjadi keunggulan kompetitif Indonesia untuk menarik investasi pusat data global.
Di sektor semikonduktor, kolaborasi dengan Arm ditargetkan mencetak 15.000 insinyur dalam tiga tahun ke depan. Pemerintah juga sedang menjajaki pembukaan kampus Indian Institute of Technology (IIT) di Indonesia untuk memperkuat ekosistem talenta digital nasional.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi perhatian utama agar industri bernilai tambah tinggi tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik. Kerja sama internasional diperluas, termasuk lewat ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA).
Airlangga menargetkan DEFA menjadi perjanjian multilateral ekonomi digital pertama di dunia. Kesepakatan itu berpotensi mendorong nilai ekonomi digital ASEAN mencapai US$2 triliun atau sekitar Rp32.000 triliun pada 2030.
Tanpa pasokan listrik yang stabil dan terjangkau, pengembangan data center serta komputasi kuantum bakal tersendat. Karena itu, pemerintah memprioritaskan ketahanan energi sebagai fondasi sebelum mempercepat adopsi teknologi digital secara masif.
Langkah ini dinilai krusial mengingat kebutuhan listrik pusat data kelas dunia jauh lebih tinggi dibandingkan bangunan komersial biasa. Investor asing biasanya menempatkan faktor keandalan utilitas sebagai syarat utama sebelum memutuskan membangun fasilitas di suatu negara.
Dengan strategi ini, pemerintah berharap sektor digital mampu berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi 8% dalam beberapa tahun mendatang. Percepatan pembangunan infrastruktur digital juga diharapkan membuka lapangan kerja baru bagi talenta lokal.