MAKASSAR — Ketika kebijakan pemilahan sampah dari sumbernya mulai diberlakukan Pemerintah Kota Makassar pada 1 Agustus 2026, Kelurahan Baru tidak perlu beradaptasi dari nol. Wilayah di Kecamatan Ujung Pandang ini sudah lebih dulu menjalankan budaya tersebut dan kini menjadi tujuan belajar berbagai daerah.
TPS 3R Karebosi yang dikelola kelurahan setempat mampu mengolah sampah organik hingga 600 kilogram per hari. Angka itu naik signifikan dari kapasitas awal yang hanya berkisar 150 hingga 200 kilogram per hari.
Fajar Harianto, Lurah Baru sejak 2021, membawa bekal unik saat memimpin wilayah tersebut. Sebelum menjadi aparatur sipil negara, ia pernah bekerja di kapal pesiar dan terbiasa dengan disiplin pemilahan sampah yang ketat.
“Yang paling sulit itu mengubah kebiasaan. Orang harus memahami bahwa sampah bukan hanya dibuang, tetapi harus dikelola bersama,” ujarnya dalam Coffee Morning yang digelar Dinas Kominfo Makassar di Kafe Nordu, Rabu (5/8/2026).
Pengetahuan itu semakin matang ketika bertugas di DLH Makassar pada 2019. Saat itu ia ikut menginisiasi kerja sama dengan ENTOMO Korea melalui hibah KOICA untuk pengembangan budidaya maggot berbasis larva Black Soldier Fly (BSF), yang fasilitasnya dibangun pada 2020.
Awal menjabat, Fajar berkeliling mendatangi hotel, restoran, rumah sakit, dan pelaku usaha untuk mengajak mereka memilah sampah. Responsnya baik, tetapi muncul satu pertanyaan yang kala itu belum terjawab: sampah organik yang sudah dipilah mau dibawa ke mana?
Jawaban baru ditemukan pada 2023 saat TPS 3R Karebosi mulai beroperasi. Sejak itu, kelurahan memiliki tempat pengolahan sampah organik menjadi pakan maggot.
Fajar tidak berhenti di situ. Ia aktif mendatangi sekolah-sekolah, mulai dari SMP Negeri 2, SMP Negeri 6, SMP Negeri 53, hingga sejumlah sekolah dasar untuk menanamkan budaya memilah sejak usia dini. Para siswa diajak melihat langsung proses pengolahan sampah di TPS 3R.
Pengolahan sampah di kelurahan ini tidak berhenti pada penguraian limbah. Budidaya maggot kini menghasilkan 30 hingga 50 kilogram per hari dengan harga jual Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.
Fajar juga menggagas program penukaran pupa maggot. Warga bisa mengambil telur maggot gratis untuk dibudidayakan, lalu mengembalikan pupa ke TPS 3R dan menukarnya dengan telur baru.
Inovasi lain yang dikembangkan adalah desain rumah budidaya maggot berukuran 1 x 2 meter yang mampu mengolah sekitar 80 kilogram sampah organik per hari. Desain tersebut bahkan telah masuk dalam e-katalog.
Sejak November 2025, DLH Makassar membantu operasional TPS 3R dengan menempatkan lima tenaga pemilah sampah yang insentifnya ditanggung pemerintah. Meski demikian, Fajar memilih menyiapkan sistem mandiri agar pengelolaan sampah tetap berkelanjutan.
“Saya berpikir yang penting sampah di wilayah saya terkelola. Itu sudah menjadi keuntungan bagi saya sebagai lurah,” katanya.
Baginya, pengelolaan sampah bukan sekadar menyediakan tempat penampungan, melainkan tanggung jawab pemerintah menjalankan amanat undang-undang.