Bimtek Kepenulisan Konten Lokal di Jeneponto, 50 Guru dan Pegiat Literasi Disebut Bakal Lahirkan Buku Esai

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 12:46:31 WIB
Bimtek kepenulisan konten lokal di Jeneponto diikuti 50 guru dan pegiat literasi, Selasa (4/8/2026).

JENEPONTO — Puluhan guru, pegiat literasi, mahasiswa, dan pengelola taman bacaan masyarakat (TBM) mengikuti bimbingan teknis (bimtek) kepenulisan berbasis konten budaya lokal di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jeneponto, Selasa (4/8/2026). Kegiatan yang didanai DAK Non Fisik Tahun Anggaran 2026 ini menghadirkan Bachtiar Adnan Kusuma (BAK), deklarator nasional Asosiasi Penulis Profesional Indonesia, sebagai narasumber utama.

Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jeneponto, Taufik S.Sos.M.M, membuka langsung kegiatan tersebut. Ia didampingi dua Kepala Bidang, Abdul Gafur dan Syahru Rahmadani.

Target 50 Penulis dan Satu Buku Antologi

Taufik menargetkan seluruh peserta mampu menghasilkan karya tulis yang layak dibukukan. Ia menekankan bahwa bimtek ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan upaya membangun rasa percaya diri warga Jeneponto untuk mendokumentasikan kearifan lokalnya sendiri.

“Saya berharap out put Bimtek Kepenulisan Konten Lokal tentang Jeneponto melahirkan karya tulis yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Taufik dalam sambutannya.

Target itu dinilai realistis. BAK sendiri disebut telah mengantar ratusan peserta bimtek serupa di berbagai daerah hingga berhasil menerbitkan buku. Jeneponto, dengan kekayaan budaya dan tradisinya, dinilai memiliki banyak bahan tulisan yang belum tergali.

Esai: Perpaduan Fakta dan Opini yang Subjektif

Pada sesi kedua, BAK mengurai filosofi menulis esai konten lokal. Berbeda dengan berita atau laporan ilmiah, esai menurutnya adalah karangan prosa yang membahas persoalan dari sudut pandang penulis secara subjektif. Tulisan ini bisa berupa kritik, argumen, hingga refleksi dari pengamatan kehidupan sehari-hari.

“Struktur esai terdapat struktur utama dalam esai dan tulisan esai yang baik dan benar memenuhi struktur pendahuluan, pembahasan, dan penutup,” jelas BAK di hadapan peserta.

Ia juga memberi catatan langsung atas draft tulisan yang telah dikirim peserta sebelum acara. Metode dialog interaktif dipilihnya agar materi tidak terasa menggurui, sembari menunjukkan contoh buku esai dan antologi karya penulis lokal.

Langkah Menulis: Dari Topik hingga Penyuntingan

BAK memaparkan empat tahapan kunci dalam menulis esai. Pertama, menentukan topik yang dikuasai dan disukai penulis. Kedua, menyeleksi gagasan dan fakta yang relevan dengan topik. Ketiga, menyusun kerangka tulisan atau outline untuk memetakan gagasan. Terakhir, mengembangkan tulisan sesuai struktur dan melakukan penyuntingan.

“Menentukan tema atau tujuan sesuai tema sebaiknya dipilih sesuai dengan yang dipahami, disukai, atau dikuasai oleh penulis,” ujarnya.

Pada bagian penutup materi, BAK mengingatkan pentingnya membaca ulang naskah sebelum dikirim. Namun pesan terakhirnya tegas: menulis saja. Menurutnya, tidak akan lahir karya tulis yang baik jika calon penulis hanya berdiskusi tentang alur menulis tanpa pernah benar-benar menulis.

Sebelum BAK tampil, sesi pertama diisi Dr Syarifuddin yang membahas teknik dasar menulis konten lokal. Materi tersebut menjadi fondasi bagi peserta sebelum mendalami genre esai.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan kekhasan koleksi perpustakaan daerah. Hasil tulisan peserta nantinya akan menjadi koleksi yang memperkaya khazanah literatur tentang Kabupaten Jeneponto.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: upeks.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top