Tumpukan Sampah di Kanal Makassar Viral, Dua Kecamatan Turun Tangan Bersihkan dan Bantah Isu Program Pilah Sampah

Penulis: Aditya Nugraha  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:03:31 WIB
Petugas membersihkan tumpukan sampah di kanal perbatasan Kecamatan Tamalate, Mariso, dan Mamajang, Makassar, Selasa (4/8/2026).

MAKASSAR — Tumpukan sampah yang memenuhi kanal di kawasan perbatasan Kecamatan Tamalate, Mariso, dan Mamajang menjadi perhatian serius pemerintah kecamatan setempat. Video yang merekam kondisi kanal di Jalan Nuri hingga perbatasan Mariso dan Tamalate viral di media sosial, memicu anggapan bahwa kebijakan pemilahan sampah menjadi biang keladinya.

Faktanya, persoalan ini berakar dari kebiasaan buruk sebagian warga yang masih menjadikan saluran air sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini diakui langsung oleh Camat Tamalate Muhammad Aril Syahbani dan Camat Mariso Andi Syahrir Mappatoba saat memimpin aksi pembersihan pada Selasa (4/8/2026).

Klarifikasi Camat: Program Pilah Sampah Bukan Penyebab

Muhammad Aril Syahbani menegaskan bahwa informasi yang menyebut tumpukan sampah di kanal akibat program pemilahan sampah adalah tidak benar. Ia menyebut persoalan sampah di kanal sudah terjadi jauh sebelum kebijakan itu diterapkan Pemerintah Kota Makassar.

"Jadi, tidak benar kalau informasi bahwa sampah di kanal akibat dari program pemilahan sampah," ujarnya. Ia menambahkan, pihaknya telah berulang kali melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, namun perilaku membuang sampah sembarangan masih saja ditemukan di sejumlah titik.

Senada dengan itu, Camat Mariso Andi Syahrir Mappatoba mengungkapkan, berdasarkan keterangan warga RT setempat, masalah ini merupakan persoalan lama. "Menurut keterangan warga RT, persoalan tersebut merupakan masalah lama yang telah terjadi jauh sebelum kebijakan pemilahan sampah diberlakukan," jelasnya.

Aksi Pembersihan di Tiga Titik Perbatasan

Pembersihan dilakukan serentak di titik-titik yang menjadi langganan tumpukan sampah. Kecamatan Tamalate fokus membersihkan kanal di wilayah Kelurahan Maccini Sombala, sementara Kecamatan Mariso mengerahkan jajarannya di Kelurahan Tamarunang, Bonto Rannu, dan Mattoangin.

Andi Syahrir menyebut kawasan perbatasan Kelurahan Sambung Jawa (Mamajang), Maccini Sombala (Tamalate), dan Tamarunang (Mariso) memang kerap menjadi lokasi pembuangan sampah ilegal. "Kami langsung melakukan pembersihan bersama jajaran setelah menerima laporan dan melihat kondisi di lapangan. Sampah yang menumpuk di kanal segera diangkut agar tidak mengganggu aliran air," ujarnya.

Setelah proses pengangkutan rampung, Muhammad Aril memastikan kondisi kanal di wilayahnya telah kembali bersih. "Kami menyampaikan bahwa kondisi kanal sepanjang wilayah Maccini Sombala dalam keadaan bersih. Ini di sepanjang kanal yang berbatasan dengan wilayah Maccini Sombala," tuturnya.

Ancaman Banjir dan Tanggung Jawab Bersama

Persoalan sampah di kanal bukan sekadar masalah estetika. Muhammad Aril mengingatkan bahwa sampah yang dibuang ke saluran air dapat menghambat aliran dan meningkatkan potensi banjir saat musim hujan tiba. Ia menilai keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga ditentukan oleh partisipasi aktif masyarakat.

"Keberhasilan pengelolaan sampah dan pencegahan pencemaran saluran air ditentukan oleh kesadaran masyarakat serta kedisiplinan dalam memilah sampah dari rumah. Tentu adanya niat dan kepedulian dari warga," imbuhnya.

Ia pun mengimbau warga untuk tidak menjadikan kanal sebagai tempat pembuangan sampah. Program pemilahan sampah yang tengah berjalan justru bertujuan mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan mendorong warga memilah sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah.

"Kami berharap masyarakat mendukung kebijakan tersebut dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan," harap Aril.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: lintascelebes.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top