PINRANG — Bupati Pinrang Andi Irwan Hamid menyebutkan, pergerakan ekonomi di daerahnya terasa selama penyelenggaraan Milad ke-109 ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah Sulawesi Selatan. Kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari ini menghadirkan ribuan kader dari luar daerah, yang secara langsung meningkatkan transaksi di warung makan, penginapan, hingga jasa transportasi lokal.
Menurut Andi Irwan, efek ekonomi dari kegiatan berskala provinsi ini tidak bisa diabaikan. Para peserta yang menginap dan beraktivitas di Pinrang selama beberapa hari menjadi konsumen bagi produk-produk lokal.
“Pinrang berterima kasih sekali karena ‘Aisyiyah ditempatkan di Kabupaten Pinrang. Kegiatan ini pasti memberi pergerakan ekonomi yang luar biasa,” ujar Irwan dalam sambutannya. Ia juga menyinggung kuliner khas Pinrang yang bisa dinikmati para peserta.
Ketua Panitia Pelaksana Milad, Dr. Nurhayati Haruna, menegaskan bahwa peringatan tahun ini dirancang sebagai momentum penguatan gerakan dakwah yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Rangkaian acara tidak hanya berisi seremoni, tetapi juga agenda pemberdayaan ekonomi perempuan.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah Wisuda Akbar Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah. Program ini meluluskan peserta dari delapan kabupaten/kota, yakni Pangkep, Bantaeng, Gowa, Bone, Parepare, Makassar, Bulukumba, dan Pinrang sebagai tuan rumah.
Para peserta telah melewati pembinaan panjang, mulai dari pelatihan dasar kewirausahaan, manajemen usaha, pengelolaan keuangan sederhana, hingga pemasaran digital dan pengemasan produk. Nurhayati menyebut program ini diarahkan untuk melahirkan perempuan tangguh yang mampu menjadi pelaku usaha mandiri sekaligus membuka lapangan kerja.
Selain wisuda wirausaha, milad kali ini juga diisi dengan ‘Aisyiyah Creative Fest, Expo BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah), pasar murah, serta talkshow ketahanan keluarga di era digital. Tak hanya itu, ‘Aisyiyah juga meluncurkan Pos Bantuan Hukum, Biro Konsultasi Keluarga Sakinah, dan program ketahanan pangan.
Bupati Pinrang menambahkan, kontribusi ‘Aisyiyah tidak berhenti di sektor ekonomi. Banyak kadernya yang terlibat aktif dalam kegiatan sosial seperti posyandu, penanganan tuberkulosis, hingga pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Andi Irwan menekankan bahwa dakwah tidak selalu identik dengan ceramah atau pidato di atas mimbar. Kegiatan nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, menurutnya, juga merupakan bentuk dakwah yang luar biasa.
“Dakwah itu bukan selalu dalam bentuk pidato atau ceramah. Dalam bentuk kegiatan pun itu sudah termasuk dakwah yang luar biasa karena bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ujar Irwan.