WAJO — Bagi petani di Wajo, listrik bukan sekadar penerang rumah. Di tengah sawah, aliran listrik menjadi penentu hidup matinya tanaman, terutama saat kemarau. Hal inilah yang mendorong warga Desa Wawangrewu mendesak Program Listrik Masuk Sawah (LISA) segera direalisasikan.
Biaya Produksi Bisa Ditekan dengan Pompa Listrik
Warga menilai, tanpa listrik, biaya operasional pompa air berbahan bakar solar sangat memberatkan. Dengan LISA, mereka bisa menggunakan pompa listrik yang lebih murah dan efisien.
“Program LISA merupakan kebutuhan yang sangat strategis bagi petani. Aspirasi ini akan kami kawal dan perjuangkan sesuai mekanisme yang ada agar dapat direalisasikan,” ujar Junaidi Muhammad di hadapan warga.
Sumur Bor Jadi Usulan Tambahan untuk Antisipasi Kemarau
Selain LISA, petani juga mengusulkan pembangunan sumur bor di titik-titik strategis lahan pertanian. Usulan ini muncul sebagai solusi jangka pendek untuk mengatasi kekeringan yang kerap melanda saat musim kemarau.
Junaidi menegaskan, usulan sumur bor akan dibahas bersamaan dengan program LISA dalam pembahasan anggaran di DPRD. Ia menyebut reses adalah momentum tepat untuk menyerap langsung kebutuhan riil petani.
Komitmen Wakil Rakyat: Aspirasi Harus Berkelanjutan
Legislator PAN itu mengajak masyarakat terus menjalin komunikasi dengan wakilnya. Menurut dia, perjuangan program pembangunan tidak cukup hanya sekali reses, melainkan harus dikawal secara berkelanjutan.
“Reses adalah kesempatan mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Program pembangunan yang kami perjuangkan harus benar-benar menjawab persoalan di lapangan,” tambahnya.