MAKASSAR — Hubungan antara Partai Golkar dan Sulawesi Selatan jauh melampaui sekadar hubungan organisasi dengan daerah. Provinsi ini telah menjadi bagian dari identitas politik Golkar sendiri, tempat partai berlambang pohon beringin itu menguji strategi, membangun kader, dan melahirkan pemimpin yang memainkan peran penting di tingkat nasional.
Dari Sekber Golkar ke Benteng Orde Baru
Tidak lama setelah Sekber Golkar dibentuk pada 20 Oktober 1964, jaringan organisasi karya mulai berkembang pesat di Sulsel melalui KOSGORO, SOKSI, MKGR, serta berbagai organisasi profesi dan kelompok fungsional. Tradisi organisasi dan kepemimpinan yang kuat di provinsi ini menjadikannya salah satu daerah dengan perkembangan Golkar paling pesat di kawasan Indonesia Timur.
Ketika Pemilu pertama Orde Baru digelar pada 1971, Sulsel langsung tampil sebagai salah satu penyumbang suara terbesar bagi Golkar. Momentum itu menjadi fondasi dominasi yang berlangsung hampir tiga dekade, di mana sebagian besar kepala daerah berasal dari Golkar dan jaringan partai menjangkau hingga tingkat desa.
Reformasi Tak Menggoyahkan Basis Golkar Sulsel
Reformasi 1998 menjadi titik balik politik nasional. Banyak partai yang sebelumnya dominan kehilangan basis dukungan, termasuk Golkar yang identik dengan pemerintahan Orde Baru. Namun situasinya berbeda di Sulawesi Selatan.
Meski menghadapi tekanan politik pasca-Reformasi, Golkar tetap mampu mempertahankan struktur organisasinya hingga tingkat desa. Dalam Pemilu 1999, ketika Golkar secara nasional berada di posisi kedua, Sulsel tetap menjadi salah satu kantong suara terkuat partai tersebut. Kemampuan bertahan ini menjadi alasan mengapa DPP Golkar selalu memberi perhatian khusus terhadap dinamika politik di provinsi ini.
Jusuf Kalla hingga Nurdin Halid: Bukti Kekuatan Kaderisasi
Salah satu keunikan Golkar Sulsel adalah kemampuannya melahirkan pemimpin yang tidak hanya berpengaruh di tingkat daerah, tetapi juga nasional. Nama Jusuf Kalla menjadi contoh paling menonjol. Selain pernah menjabat Ketua Umum Partai Golkar, ia juga dua kali dipercaya menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Di tingkat organisasi, Nurdin Halid menjadi figur yang sangat identik dengan konsolidasi Golkar Sulsel pada era Reformasi. Di bawah kepemimpinannya, partai berhasil mempertahankan dominasinya dalam berbagai pemilu legislatif dan melahirkan banyak kepala daerah dari kader internal. Banyak tokoh Sulsel kemudian mengisi posisi strategis di DPP, DPR RI, kementerian, hingga pemerintahan daerah.
Musda Golkar Sulsel: Panggung yang Selalu Ditonton Nasional
Jika di banyak provinsi Musyawarah Daerah (Musda) berlangsung relatif biasa, di Sulsel Musda Golkar hampir selalu menjadi perhatian nasional. DPD II kabupaten dan kota memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam menentukan arah kepemimpinan DPD I. Setiap kontestasi tidak hanya berbicara mengenai pergantian ketua, tetapi juga menjadi cerminan dinamika politik nasional Golkar.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah nama seperti Erwin Aksa, Nurdin Halid, Taufan Pawe, Munafri Arifuddin, Rahman Pina, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Andi Ina Kartika Sari, serta tokoh kepala daerah seperti Andi Kaswadi Razak dan Indah Putri Indriani menjadi bagian dari dinamika politik internal Golkar Sulsel. Perbedaan pandangan, kompetisi kepemimpinan, hingga proses konsolidasi justru memperlihatkan bahwa organisasi ini tetap hidup dan dinamis.
Era Bahlil Lahadalia: Tantangan Regenerasi
Memasuki era kepemimpinan nasional di bawah Bahlil Lahadalia, Golkar Sulsel menghadapi fase regenerasi. Munculnya generasi baru pemimpin daerah, profesional, dan pengusaha membawa warna baru dalam organisasi. Pertanyaannya sekarang: akankah laboratorium politik terpenting Golkar ini tetap mampu mempertahankan tradisi kaderisasi dan adaptasinya terhadap perubahan zaman?