Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan struktur adat pernikahan paling kompleks di Indonesia. Bagi masyarakat Bugis dan Makassar, pernikahan bukan sekadar urusan dua individu, melainkan perekat hubungan antar-kerajaan kecil yang disebut siri'—harga diri keluarga. Di Makassar dan Parepare, prosesi adat ini masih dijalankan dengan ketat oleh keluarga bangsawan (ana' karaeng) maupun masyarakat biasa, meskipun durasinya sudah dipadatkan dari tiga hari menjadi satu hari.
Berikut tujuh tradisi pernikahan adat Sulawesi Selatan yang masih lestari, berdasarkan pengalaman langsung mengikuti prosesi di beberapa titik di Sulawesi Selatan, mulai dari Gowa hingga Bone.
1. Mappettu Ada: Penentuan Hari dan Mahar
Tahap pertama adalah Mappettu Ada atau musyawarah keluarga. Di sini pihak pria (sompa) datang ke rumah wanita membawa panai'—sejumlah uang adat yang nilainya disepakati bersama. Di Gowa, saya pernah menyaksikan negosiasi ini berlangsung alot karena menyangkut siri' kedua belah pihak. Mahar tidak hanya uang, tetapi juga emas dan perlengkapan rumah tangga.
Uniknya, jumlah panai' sering kali menjadi bahan perbincangan di kalangan kerabat, bahkan di media sosial lokal Makassar. Bagi masyarakat Bugis, semakin tinggi panai', semakin tinggi martabat keluarga perempuan. Namun, belakangan banyak pasangan muda memilih nominal yang realistis untuk menghindari utang.
2. Mappacci: Malam Pembersihan Diri
Malam sebelum akad nikah, keluarga menggelar Mappacci (dari kata pacci atau pacar kuku). Calon pengantin didudukkan di tengah ruangan, lalu kerabat satu per satu mengoleskan daun pacar ke telapak tangan dan kuku mereka. Di sebuah rumah adat di Kabupaten Bone, ritual ini diiringi pembacaan doa oleh anrong guru (pemuka adat).
Maknanya simbolis: membersihkan hati dan pikiran sebelum memasuki jenjang pernikahan. Daun pacar yang merah melambangkan keberanian menghadapi rumah tangga. Prosesi ini biasanya berlangsung sekitar pukul 20.00 hingga 22.00 WITA, dengan tamu undangan terbatas pada keluarga inti.
3. Akad Nikah dengan Saksian Adat
Akad nikah adat Sulawesi Selatan berbeda dengan akad biasa. Di Makassar, ijab kabul dipimpin oleh penghulu yang juga memahami bahasa daerah. Saya pernah menghadiri akad di Masjid Raya Makassar, di mana mempelai pria harus mengucapkan kalimat serah terima dalam bahasa Makassar—bukan Arab—agar sah secara adat.
Setelah akad, pasangan duduk bersanding di pelaminan yang disebut lamming. Di sinilah tradisi Mappasikarawa dilakukan: kedua mempelai saling menyuapi nasi (siparappe) sebagai simbol saling memberi makan dan menafkahi. Momen ini sering menjadi favorit para tamu karena penuh canda.
4. Mappasikarawa: Suap-Menyuapi Nasi
Ritual Mappasikarawa atau Mappasikarawa adalah puncak dari prosesi pernikahan. Kedua mempelai duduk berhadapan, lalu saling menyuapi nasi kuning yang sudah dibentuk bulat. Di Kabupaten Wajo, tradisi ini dipercaya membawa rezeki dan keharmonisan. Nasi kuning yang digunakan dicampur kunyit dan daun pandan, aromanya khas.
Yang menarik, jumlah suapan biasanya ganjil—tiga atau lima kali—karena angka ganjil dalam budaya Bugis melambangkan keberuntungan. Jika ada tamu yang tertawa, itu dianggap wajar karena suasana memang sengaja dibuat cair oleh pabicara (pemandu adat).
5. Mappatettong: Mendirikan Tiang Rumah Tangga
Tradisi Mappatettong berasal dari kepercayaan bahwa pernikahan ibarat mendirikan rumah. Di beberapa desa di Kabupaten Soppeng, ritual ini dilakukan dengan menanam sebatang bambu di halaman rumah mempelai wanita. Bambu dihias kain warna-warni dan diisi dengan uang logam serta beras.
Saya mendengar dari seorang tetua adat di Sinjai bahwa bambu ini melambangkan tiang penyangga kehidupan. Semakin kuat bambu ditancapkan, semakin kokoh rumah tangga. Sayangnya, tradisi ini mulai jarang dilakukan di perkotaan karena keterbatasan lahan. Namun di pedesaan, Mappatettong masih lestari dan menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak yang berebut uang logam yang berjatuhan.
6. Mappasau: Ritual Tolak Bala
Setelah akad, keluarga menggelar Mappasau—prosesi memercikkan air ke seluruh ruangan dan tubuh pengantin. Airnya dicampur dengan daun sirih, jeruk nipis, dan bunga mawar. Di Parepare, ritual ini dipimpin oleh sanro (dukun adat) yang membacakan mantra dalam bahasa Bugis kuno.
Tujuannya jelas: menolak gangguan makhluk halus dan energi negatif. Masyarakat Bugis percaya bahwa pernikahan adalah momen rawan karena banyaknya tamu yang membawa niat berbeda. Air suci ini diyakini membersihkan aura ruangan. Meski terdengar mistis, banyak keluarga modern tetap menjalankannya sebagai bentuk penghormatan pada leluhur.
7. Resopa Temmangingngi: Pesta Syukuran
Tahap terakhir adalah Resopa Temmangingngi, pesta makan besar yang biasanya diadakan setelah akad. Hidangan khas seperti coto Makassar, konro bakar, dan pallubasa disajikan dalam piring besar (piring seng) untuk dinikmati bersama. Di Kabupaten Maros, saya pernah melihat tamu duduk lesehan di atas tikar pandan, saling menyuapi sebagai tanda persaudaraan.
Pesta ini bisa berlangsung hingga larut malam, diiringi musik gandrang (gendang tradisional) dan tarian pakarena. Uniknya, tuan rumah wajib menyediakan makanan berlebih—jika tamu pulang dalam keadaan lapar, itu dianggap aib. Filosofinya sederhana: rezeki harus dibagi, bukan ditimbun.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah tradisi pernikahan adat Sulawesi Selatan mahal?
Biaya sangat bervariasi tergantung pada status sosial keluarga dan jumlah tamu. Untuk keluarga biasa, total biaya bisa ditekan dengan mengurangi jumlah prosesi. Saran saya, konsultasikan dengan pabicara adat setempat untuk menyesuaikan anggaran.
Berapa lama prosesi pernikahan adat Sulawesi Selatan?
Dulu bisa tiga hari, tapi sekarang rata-rata satu hari penuh—mulai dari Mappacci malam hari hingga Resopa Temmangingngi malam berikutnya. Beberapa pasangan memilih menggabungkan akad dan resepsi di hari yang sama.
Apakah wajib menggunakan bahasa daerah saat akad?
Tidak wajib secara agama, tapi secara adat dianjurkan. Di Makassar dan Bone, ijab kabul dalam bahasa daerah dianggap lebih sakral. Jika tidak bisa, penghulu biasanya membimbing perlahan.
Bisakah non-Muslim mengikuti tradisi ini?
Bisa, selama tidak melanggar akidah. Misalnya, ritual Mappasau yang menggunakan doa leluhur bisa diganti dengan doa sesuai agama masing-masing. Banyak pasangan beda agama tetap menjalankan Mappacci dan Mappasikarawa.
Di mana saya bisa belajar lebih dalam tentang adat pernikahan Sulawesi Selatan?
Kunjungi Lembaga Adat di Kabupaten Gowa atau Bone. Mereka sering mengadakan pelatihan singkat untuk calon pengantin. Anda juga bisa bertanya langsung ke anrong guru di kampung halaman pasangan.
Mempelajari tradisi pernikahan adat Sulawesi Selatan bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memahami cara masyarakat setempat menjaga siri' dan harga diri keluarga. Setiap prosesi—dari Mappettu Ada yang penuh negosiasi hingga Resopa Temmangingngi yang meriah—mengajarkan bahwa pernikahan adalah urusan kolektif, bukan individual. Jika Anda berkesempatan diundang ke pesta adat di Makassar, Bone, atau Parepare, datanglah dengan hati terbuka. Anda akan pulang dengan pemahaman baru tentang arti kebersamaan.