Pencarian

Riset di Leang Panninge Maros Ungkap Evolusi Teknologi Alat Batu Selama 40.000 Tahun, Budaya Toalean Berakar dari Tradisi Lokal

Kamis, 16 Juli 2026 • 18:02:31 WIB
Riset di Leang Panninge Maros Ungkap Evolusi Teknologi Alat Batu Selama 40.000 Tahun, Budaya Toalean Berakar dari Tradisi Lokal
Artefak batu dari Leang Panninge, Maros, menunjukkan perkembangan teknologi alat batu dari 40.000 hingga 3.500 tahun lalu.

MAROS — Sebuah studi kolaboratif yang dipublikasikan di jurnal bergengsi "Archaeological and Anthropological Science" memberikan perspektif baru tentang prasejarah di Sulawesi. Penelitian berjudul "Evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the 'Toalean' technocomplex" ini menganalisis artefak batu dari lapisan tanah berumur 40.000 hingga 3.500 tahun lalu.

Hasilnya menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak terjadi dalam sekejap. Masyarakat prasejarah di Sulawesi Selatan membangun kemampuan mereka secara perlahan di atas fondasi yang sudah ada selama puluhan ribu tahun sebelumnya.

Dari Serpih Sederhana hingga Maros Point yang Ikonik

Pada fase awal, sekitar 40.000 tahun lalu, penghuni Leang Panninge memproduksi serpih-serpih batu sederhana. Alat-alat ini langsung digunakan tanpa modifikasi lanjutan, namun para peneliti menemukan bahwa mereka telah menguasai berbagai teknik pereduksian batu, termasuk teknik bipolar.

Menariknya, teknik bipolar ini diduga kuat terkait dengan kebutuhan mengolah sumber oker, bahan baku utama untuk membuat lukisan dinding gua yang menjadi ciri khas kawasan Maros-Pangkep. Kreativitas artistik dan kebutuhan adaptasi berjalan beriringan sejak awal.

Perubahan signifikan mulai terlihat sekitar 8.000 tahun lalu. Pada periode inilah Maros Point—artefak batu berbentuk mata panah yang menjadi penanda budaya Toalean—mulai muncul. Inovasi ini tidak datang dari luar, melainkan lahir dari tradisi lokal yang terus berkembang.

Puncak Inovasi pada Era Toalean Akhir

Memasuki periode Toalean Akhir, strategi produksi alat batu mencapai tingkat organisasi yang lebih tinggi. Masyarakat mulai menghasilkan artefak yang lebih kecil, lebih seragam, dan memanfaatkan teknologi backing—teknik mematahkan ujung mata panah untuk tujuan tertentu.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi luas. Para peneliti berasal dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulawesi Selatan, Bumi Toala Indonesia, NALAR, dan IAAI SULAMPAPUA.

Kesinambungan 40.000 Tahun yang Tak Terputus

Suryatman, penulis utama penelitian dari Universitas Hasanuddin, menegaskan bahwa temuan ini mengubah cara pandang arkeolog terhadap budaya Toalean.

"Yang menarik dari penelitian ini adalah adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang. Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong. Berbagai inovasi yang menjadi ciri khas Toalean berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan masyarakat Sulawesi Selatan selama puluhan ribu tahun," jelasnya.

Guru Besar Arkeologi Universitas Hasanuddin, Prof. Akin Duli, menambahkan bahwa pentingnya Leang Panninge tidak hanya terletak pada artefak batunya. Situs ini menyimpan berbagai bukti lain yang membantu merekonstruksi sejarah manusia di Sulawesi secara lebih utuh.

Temuan ini sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu laboratorium prasejarah terpenting di Indonesia. Jejak adaptasi dan kreativitas manusia di wilayah itu ternyata telah berlangsung jauh lebih lama dan lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.

Bagikan
Sumber: sulsel.suara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks